LPS Berbagi Strategi Finansial Hadapi Gaya Hidup Konsumtif Digital

Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:05:32 WIB
Wakil Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Farid Azhar Nasution.

JAKARTA - Wakil Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Farid Azhar Nasution mengimbau kalangan generasi muda agar lebih cermat serta bijaksana dalam menata tata kelola keuangan pribadi, terutama di era perkembangan teknologi digital saat ini.

Farid menguraikan bahwa minimnya pemahaman literasi keuangan memberikan dampak negatif yang masif secara langsung terhadap kebiasaan serta keputusan finansial masyarakat, khususnya pada kelompok usia produktif.

Hadirnya beragam fenomena sosial modern seperti kecemasan akan tren terkini rupanya sering kali menyeret psikologis seseorang untuk mengambil langkah serta keputusan keuangan yang cenderung tidak masuk akal.

“Dorongan mengikuti tren, menjaga gengsi, maupun gaya hidup tertentu sering membuat seseorang mengabaikan kemampuan finansialnya. Akibatnya, berbagai instrumen pembiayaan konsumtif jadi pilihan instan untuk memenuhi keinginan jangka pendek tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang,” ujarnya.

Farid menambahkan bahwa realitas dari rendahnya kontrol diri ini tercermin secara gamblang lewat tingginya angka persentase pemanfaatan fitur pinjaman daring oleh kalangan pemuda yang kini menyentuh angka hingga 60 persen.

Data lapangan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa program edukasi serta penguatan kesadaran finansial wajib ditanamkan sedini mungkin guna membentengi masyarakat dari berbagai potensi jebakan risiko utang.

Menurut pandangannya, kendala paling besar dalam menjaga stabilitas dompet digital sejatinya bukan bertumpu pada besaran nominal pendapatan yang didapat, melainkan pada ketidakmampuan individu dalam meredam nafsu konsumtifnya.

"Diskon, fasilitas paylater, dan berbagai bentuk cicilan yang tersedia saat ini menuntut masyarakat untuk memiliki kemampuan mengendalikan diri dan menentukan prioritas,” jelasnya dalam forum kuliah umum di Universitas Hasanuddin.

Sebagai fondasi awal guna membentuk kesadaran finansial yang kokoh, Farid memotivasi kelompok mahasiswa untuk mulai menggalakkan budaya menabung secara konsisten dan terjadwal melalui institusi perbankan resmi.

Langkah menabung sejak dini dinilai tidak hanya efektif menolong manajemen keuangan domestik agar lebih rapi, melainkan sanggup membentuk karakter disiplin serta kemandirian masa depan yang terukur.

Farid juga menyelipkan petuah berharga mengenai pentingnya mengaplikasikan formula pengelolaan dana yang berprinsip pada pola menyisihkan uang di awal, bukan sekadar mengandalkan sisa sisa uang belanja.

Melalui formula tersebut, sebagian porsi pendapatan wajib dipisahkan terlebih dahulu untuk alokasi tabungan masa depan atau kebutuhan darurat sebelum habis terpakai untuk pos pengeluaran sekunder lainnya.

Di samping itu, kecakapan dalam memetakan batas tegas antara kebutuhan pokok dan keinginan semata diposisikan sebagai pilar krusial untuk membangun ketahanan ekonomi personal yang tangguh.

Pada momentum yang sama, Farid memaparkan jika konstelasi sektor keuangan domestik sejauh ini masih ditopang kuat oleh industri perbankan, namun tingkat pemahaman publik terkait sistem penjaminan simpanan masih minim.

Oleh karena itu, pihak LPS berkomitmen penuh untuk terus menggencarkan sosialisasi publik seputar pentingnya menjaga kesehatan perbankan sekaligus memahamkan peran krusial LPS dalam melindungi dana nasabah.

Farid menaruh harapan besar agar jajaran mahasiswa selaku motor penggerak peradaban bangsa sanggup bertindak sebagai pelopor edukasi yang ikut mengerek indeks literasi keuangan di lingkungan sekitarnya.

Berbekal wawasan tata kelola keuangan yang mumpuni, generasi muda diharapkan mampu menelurkan keputusan finansial yang matang dan terbebas dari jerat utang piutang yang berisiko mengancam masa depan.

 

Terkini