Yogurt Beku Belum Tentu Lebih Sehat dibanding Es Krim Menurut Ahli

Sabtu, 13 Juni 2026 | 18:55:02 WIB
Ilustrasi Yogurt Beku.

JAKARTA – Hidangan frozen yogurt atau yogurt beku selama ini terlanjur identik dan dikenal luas oleh publik sebagai opsi asupan yang jauh lebih sehat bila dibandingkan dengan es krim.

Kondisi tersebut memicu banyak kelompok masyarakat untuk menjatuhkan pilihan pada menu segar ini sebagai konsumsi harian guna menyukseskan program diet mereka.

Namun, mengacu pada pemaparan para ahli gizi serta pakar ilmu pangan, anggapan populer tersebut dinilai tidak sepenuhnya tepat lantaran disparitas kandungan nutrisi dari keduanya sejatinya tidak terlampau besar.

Hal itu didasari oleh fakta lapangan bahwa kedua jenis hidangan pencuci mulut tersebut sama-sama memiliki potensi besar untuk menyimpan kontaminasi zat gula tambahan dalam takaran yang cukup tinggi.

Seorang pakar ilmu pangan asal Universitas Wisconsin di Madison, Scott A. Rankin, menguraikan bahwasanya formulasi komposisi pada yogurt beku tercatat sangat bervariasi antara satu produk dengan produk lainnya.

Atas dasar pertimbangan tersebut, tidak semua jenis produk yogurt beku yang beredar di pasaran benar-benar aman serta cocok untuk dijadikan menu penunjang program diet.

Secara rata-rata, produk yogurt beku komersial hanya menyimpan kadar lemak berkisar antara 3 hingga 4 persen, bahkan bisa lebih rendah lagi pada varian label rendah lemak atau tanpa lemak.

Sementara itu, untuk regulasi di kawasan Amerika Serikat, sebuah produk olahan yogurt beku diwajibkan untuk memiliki kandungan lemak minimal berada pada angka 10 persen.

Komoditas kuliner ini pada dasarnya diproduksi dengan memanfaatkan bahan baku utama berupa susu fermentasi layaknya yogurt biasa atau susu kultur, yang kemudian dikombinasikan dengan gula serta zat perasa.

Kendati demikian, mayoritas dari produk yogurt beku yang jamak dijajakan di berbagai toko ritel modern maupun gerai kuliner saat ini sudah dikategorikan ke dalam kelompok makanan ultra-proses.

"Produk tersebut sering mengandung pemanis tambahan seperti sirup jagung atau dekstrosa, serta bahan penstabil dan pengemulsi untuk menjaga tekstur tetap lembut dan mencegah kristal es terbentuk," kata dia dilansir dari New York Times, Selasa (9/6/2026).

Kelompok komoditas makanan ultra-proses secara medis pada umumnya kerap dikaitkan dengan potensi lonjakan risiko obesitas, gangguan penyakit jantung, diabetes tipe 2, hingga rupa-rupa problem kesehatan tubuh lainnya.

Yogurt beku bisa lebih tinggi gula

Hingga saat ini sejatinya belum ada laporan penelitian ilmiah berskala ketat yang secara langsung mengomparasikan dampak medis dari konsumsi frozen yogurt dengan es krim.

Walau begitu, potret profil nutrisi makro yang terkandung di dalam kedua jenis makanan pencuci mulut ini dinilai sudah cukup memberikan petunjuk dasar bagi konsumen.

Yogurt beku secara umum memang terbukti menyimpan akumulasi kalori serta persentase lemak jenuh yang jauh lebih sedikit apabila disandingkan dengan hidangan es krim.

Akan tetapi, demi menyeimbangkan cita rasa asam alami yang keluar dari yogurt, sejumlah pabrikan produsen frozen yogurt justru kedapatan memasukkan lebih banyak asupan zat gula tambahan.

Oleh sebab itu, indikasi ancaman terserang penyakit kronis pun dinilai bakal ikut merangkak naik akibat kebiasaan mengonsumsi produk makanan hasil olahan semacam ini.

Senada dengan pandangan Scott, seorang ahli gizi yang berbasis di New York, Michelle Routhenstein, mengutarakan bahwa aktivitas konsumsi lemak jenuh secara berlebihan berisiko mendongkrak kadar kolesterol LDL atau kolesterol jahat.

Tingginya kadar kolesterol jahat di dalam darah tersebut disinyalir memiliki korelasi erat dengan risiko kemunculan gangguan penyakit kardiovaskular.

"Meski demikian, baik yogurt beku maupun es krim tetap tergolong tinggi gula tambahan yang jika dikomparasikan berlebihan dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2, obesitas, dan penyakit jantung," tegasnya.

Apabila target utama yang ingin diraih oleh konsumen adalah untuk meraup khasiat nutrisi murni dari yogurt, ia memberikan saran agar publik lebih menjatuhkan pilihan pada produk yogurt tawar atau plain yogurt biasa.

“Gunakan sebagai makanan selingan dan pilih yang benar-benar memuaskan bagi Anda," kata dia.

Tak semua yogurt beku punya kandungan probiotik

Saat ini ada banyak merek dagang yogurt beku yang sengaja mencantumkan klaim kepemilikan mikroorganisme hidup atau zat probiotik di dalam kemasan produk jualan mereka.

Seorang Pakar Ilmu Pangan dari Universitas California di Davis, Maria Marco, memaparkan bahwa beberapa hasil riset terbatas memang membuktikan bahwa yogurt dan susu fermentasi andal menyokong kesehatan saluran pencernaan.

Dampak positif dari asupan tersebut di antaranya dinilai mampu meminimalkan keluhan sakit pada bagian perut, mereduksi gejala perut kembung, hingga mengatasi problem sembelit atau susah buang air besar.

Akan tetapi, sejauh ini belum didapatkan sebuah kepastian ilmiah yang mutlak apakah khasiat kesehatan serupa juga bakal berlaku aktif pada produk yogurt yang telah dibekukan.

"Sebetulnya setiap produk bisa dapat label live and active cultures dari International Dairy Foods Association dapat membantu konsumen memastikan suatu produk memang mengandung kultur hidup dalam jumlah berarti," kata dia.

Persoalan utamanya terletak pada sistem regulasi produk olahan ini di beberapa kawasan wilayah yang dinilai tidak terlalu ketat, sehingga konsumen kesulitan mendeteksi seberapa banyak volume probiotik yang benar-benar tersimpan di dalamnya.

Ia juga menggarisbawahi bahwa pada dasarnya tidak ada larangan bagi masyarakat untuk sekadar menikmati hidangan yogurt beku ataupun aneka jenis makanan penutup manis lainnya.

Akan tetapi, aktivitas konsumsi tersebut sebaiknya tidak didasari oleh motif atau alasan medis tertentu selain untuk tujuan pemenuhan kesehatan tubuh.

"Menikmati yogurt beku, misalnya untuk kesenangan, kenyamanan emosional saja," kata dia.

Terkini