Beras Melimpah dan Kepala Bapanas Amran Minta Satgas Tindak yang Nakal

Sabtu, 13 Juni 2026 | 19:09:01 WIB
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman.

JAKARTA – Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman menegaskan bakal menindak tegas oknum pedagang nakal yang menaikkan harga maupun sengaja menciptakan kelangkaan beras di tengah kondisi stok nasional yang disebut mencapai level tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

Pihak pemerintah bahkan telah meminta Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polri untuk melakukan pengawasan langsung terhadap jalur distribusi dan pergerakan harga beras di berbagai daerah guna memastikan pasokan tetap lancar serta harga terkendali di tingkat konsumen.

"Beras kami melimpah. Jangan mempermainkan di lapangan karena kami sudah minta Satgas turun ke lapangan. Tidak ada yang langka. Tolong tidak ada pangan, khususnya beras, makanan pokok kami, langka," ujar Amran dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu (13/6/2026).

Menurut penjelasan Amran, kondisi pasar komoditas beras saat ini terhitung berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya ketika lonjakan harga kerap direspons melalui kebijakan impor.

Saat ini, pemerintah mengklaim mengantongi ketersediaan stok yang sangat besar berkat adanya peningkatan hasil produksi domestik.

Ia menyebut jumlah cadangan stok beras nasional kini telah menyentuh kisaran 5,3 juta ton.

Jumlah tersebut mencakup pasokan yang tersimpan di dalam gudang Perum Bulog maupun fasilitas penyimpanan tambahan yang disewa pemerintah lantaran kapasitas gudang eksisting dinilai tidak lagi mencukupi.

"Kami bersama Satgas Pangan pantau seluruh Indonesia. Jangan dibuat langka. Tidak ada langka. Semua gudang kami penuh dengan beras sekarang ini. Stok sekarang 5,3 juta ton. Kemampuan gudang kami 3 juta ton. Kami sudah sewa 2,3 juta ton dan ini tertinggi selama merdeka," katanya.

Pihak pemerintah menilai tingginya ketersediaan stok beras tersebut merupakan hasil nyata dari peningkatan produksi nasional yang berhasil mendorong Indonesia mencapai kondisi swasembada beras pada periode tahun 2025.

Kinerja produksi nasional ini juga tercermin dalam laporan Rice Outlook Mei 2026 yang diterbitkan oleh United States Department of Agriculture (USDA).

Dalam laporan tersebut, Indonesia masuk ke dalam kelompok negara dengan peningkatan produksi beras terbesar bersama Nigeria, Pantai Gading, dan Vietnam.

Namun, Indonesia menjadi satu-satunya negara di dalam kelompok tersebut yang mengantongi total produksi tahunan di atas angka 30 juta ton.

"Kalau dulu stok di Bulog hanya 1 juta ton kemudian harga naik, kesimpulannya impor. Sekarang berbeda. Kami surplus. Kami sudah swasembada," ujar Amran.

Amran menegaskan imbauan bagi seluruh pelaku usaha dan pedagang beras agar tidak memanfaatkan situasi pasar guna meraup keuntungan berlebihan melalui permainan harga ataupun jalur distribusi.

"Tolong sekali lagi, seluruh pedagang beras seluruh Indonesia, jangan mempermainkan harga. Kami sudah sepakat dengan Satgas Pangan, seluruh Dirkrimsus se-Indonesia. Kami putuskan kami pantau dan yang nakal kami tindak," tegasnya.

Selain memperketat sektor pengawasan distribusi, pemerintah juga meminta Bulog untuk meningkatkan kuantitas penyaluran beras premium ke pasar.

Selama ini, Bulog lebih dikenal menjalankan program distribusi beras medium melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Amran menilai Bulog perlu memperluas jangkauan peran di segmen komersial guna memenuhi tingkat kebutuhan konsumen terhadap produk beras premium.

Arahan tersebut mencuat setelah pihak Bapanas menerima laporan mengenai berkurangnya pasokan komoditas beras premium di sejumlah gerai ritel modern.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa menegaskan bahwa kondisi yang terjadi bukanlah fenomena kelangkaan beras, melainkan berkurangnya suplai dari beberapa pemasok pada segmen premium.

Menurut pandangannya, kondisi tersebut justru menjadi peluang emas bagi Bulog untuk memperluas pemasaran produk beras komersial yang dimiliki.

"Bukan langka. Saya kira kami juga kunjungan ke lapangan, melihat di ritel modern itu masih ada, tidak banyak tapi ada. Ini kesempatan Bulog masuk. Bulog kan punya Befood, punya Punokawan, Setra Ramos. Nah Bulog mengisi kekurangan suplai, jadi bukan langka," kata Ketut.

Berdasarkan sajian data Bapanas per 12 Juni 2026, stok beras komersial milik Bulog tercatat masih berada di kisaran 11.400 ton.

Sementara itu, realisasi pengadaan setara beras untuk kebutuhan stok komersial telah menyentuh angka 45.500 ton dari total pengadaan beras nasional yang mencapai 3,1 juta ton.

Dengan kondisi pasokan stok yang melimpah, pemerintah menegaskan fokus saat ini bukan pada penambahan pasokan via impor, melainkan memastikan distribusi berjalan lancar, harga tetap terkendali, dan tidak ada praktik spekulasi yang merugikan warga maupun petani.

Terkini