DPR Sebut Nobar Piala Dunia Jadi Peluang Ekonomi Lokal

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:35:32 WIB
Ilustrasi nonton bareng (nobar) Piala Dunia 2026. [Foto: NET]

JAKARTA - Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga berpandangan bahwa agenda nonton bersama (nobar) Piala Dunia 2026 mampu menjadi wadah kebersamaan warga sekaligus memicu perputaran ekonomi lokal lewat lonjakan aktivitas usaha berbasis komunitas.

Lamhot menyampaikan bahwa besarnya antusiasme publik terhadap turnamen sepak bola empat tahunan tersebut dapat dioptimalkan demi melahirkan dampak ekonomi yang positif, khususnya bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di daerah.

"Piala Dunia bukan hanya tentang olahraga, tetapi juga tentang bagaimana sebuah momentum besar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Ada peluang ekonomi yang bisa tumbuh ketika masyarakat berkumpul dan beraktivitas bersama," kata Lamhot dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (17/6/2026.

Pernyataan itu diutarakan pasca-agenda nobar pertandingan Piala Dunia 2026 antara Spanyol menghadapi Tanjung Verde yang diinisiasi oleh Relawan Lamhot Sinaga (Relasi) di RM Sederhana, Pagururan, Sumatera Utara, Selasa (16/6) yang diramaikan oleh ratusan warga.

Berdasarkan penilaian Lamhot, bermacam aktivitas yang mengikutsertakan partisipasi masyarakat luas mampu menghadirkan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian lokal, mulai dari melonjaknya omzet kuliner, perdagangan komoditas warga, hingga bangkitnya sektor ekonomi kreatif.

"UMKM menjadi salah satu sektor yang bisa merasakan manfaat dari momentum seperti ini. Perputaran ekonomi tidak hanya terjadi di pusat kegiatan, tetapi juga dapat menyebar ke lingkungan sekitar," ujarnya.

Politikus dari Partai Golkar tersebut menambahkan bahwa bercermin dari rekam jejak beberapa pergelaran olahraga tingkat internasional, tingginya pergerakan masyarakat terbukti bisa membuka peluang bisnis baru jika dikelola secara optimal oleh komunitas lokal.

Ia pun memberikan apresiasi atas peran TVRI selaku lembaga penyiaran publik yang menayangkan Piala Dunia, sehingga warga di bermacam wilayah dapat menyaksikan laga tersebut secara lebih luas.

Bagi Lamhot, tersedianya akses menuju tayangan olahraga berskala dunia ini tidak sekadar menyajikan hiburan bagi publik, tetapi turut mempererat interaksi sosial di lingkungan masyarakat.

"Olahraga memiliki kemampuan menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang. Karena itu, momentum seperti Piala Dunia sebaiknya tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi juga menjadi kesempatan menghadirkan manfaat sosial dan ekonomi," kata dia.

Lamhot menginginkan aktivitas sejenis bisa terus digalakkan dengan menggandeng publik secara luas, sehingga mampu menjadi wadah bagi berkembangnya kreativitas serta penguatan ekonomi yang berbasis pada komunitas.

"Ketika masyarakat bergerak, ekonomi lokal ikut bergerak. Inilah nilai tambah dari sebuah momentum besar seperti Piala Dunia," ujar Lamhot.

Terkini