Rizaludin Kurniawan Ungkap Kunci Keberlanjutan Filantropi Islam

Selasa, 30 Juni 2026 | 20:36:01 WIB
Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pengumpulan, H. Rizaludin Kurniawan, M.Si, CFRM,.

JAKARTA - Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI memberikan penegasan bahwa langkah transformasi terhadap tiga elemen utama di dalam zakat, yaitu muzaki, amil, beserta mustahik, menjadi sebuah kunci penting guna menciptakan gerakan filantropi Islam yang berkesinambungan serta mampu memberi dampak nyata bagi pembangunan masyarakat luas.

"Selama ini, kalau bicara soal zakat, fokus kami hampir selalu ke mustahik, bagaimana cara bantu ekonomi mereka agar keluar dari kemiskinan. Padahal, ekosistem zakat itu punya tiga aktor utama: muzaki, amil dan mustahik," kata Pimpinan Baznas RI Bidang Mobilisasi dan Pengumpulan, Rizaludin Kurniawan dalam keterangan di Jakarta, Selasa.

Rizaludin Kurniawan memaparkan lewat gagasan yang dinamai "Transformasi Tiga Aktor Filantropi Islam", tiap-tiap elemen di dalam ekosistem zakat ini memegang peranan serta alur metamorfosis masing-masing yang saling menguatkan satu sama lain.

Rizaludin Kurniawan menilai kedudukan muzaki tidak boleh lagi diidentifikasi sekadar sebagai penyumbang dana semata, melainkan sebagai sosok individu yang tengah menempuh proses peningkatan spiritual keagamaan lewat ibadah penunaian zakat.

Melalui ibadah zakat yang ditunaikan secara sadar, seorang pembayar zakat bukan cuma membersihkan harta yang dimiliki, melainkan ikut menyucikan batin serta mempererat ikatan rohani dengan Allah SWT demi menggapai derajat manusia paripurna.

"Melalui ibadah zakat yang bermakna, semakin sering seorang muzaki berbagi, akan semakin dekat pula keterhubungan spiritualnya dengan Allah, sekaligus menyempurnakan kualitas dirinya sebagai manusia yang paling bermanfaat bagi sesama," ujarnya.

Di sisi lain, elemen kedua yaitu amil diwajibkan untuk terus berbenah menjadi lembaga pengelola zakat yang taat agama, profesional, berintegritas, transparan, serta tanggap terhadap perkembangan dunia teknologi terkini.

Menurut pandangan Rizaludin Kurniawan, penggunaan teknologi digital kini menjadi salah satu sarana krusial untuk menaikkan mutu pelayanan, memperkokoh sistem tata kelola, sekaligus memupuk rasa percaya dari publik luas terhadap badan amil zakat.

Untuk elemen ketiga yakni mustahik, kini tidak boleh lagi diposisikan pasif hanya selaku penerima santunan dana saja, melainkan wajib dipacu menjadi pribadi yang mandiri melalui implementasi pelbagai program penguatan ekonomi, edukasi, serta sosial agar terbebas dari jerat kemiskinan.

Rizaludin Kurniawan memberikan catatan tebal bahwa instrumen zakat tidak berjalan searah hanya sebagai alat pembagian kekayaan material semata, melainkan merupakan sebuah tatanan sistem yang dikonsep guna melahirkan perubahan total bagi kehidupan sosial.

"Kita harus memahami bahwa zakat bukan hanya instrumen teknis untuk membagi-bagikan harta dari kaya kepada miskin, melainkan sebuah jalan transformatif yang didesain untuk menyempurnakan eksistensi manusia dan melahirkan sebuah peradaban baru yang berdaya serta berkelanjutan," tutur Rizaludin Kurniawan.

Terkini