Ekosistem Mangrove Indonesia Jadi Atensi Global, Ini Alasannya

Rabu, 01 Juli 2026 | 16:43:01 WIB
Ilustrasi ekosistem mangrove. [Foto: NET]

TANJUNG SELOR, KALTARA - Direktur Rehabilitasi Mangrove, Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Nikolas Nugroho Surjobasuindro menyatakan bahwa ekosistem mangrove di tanah air kini menjadi perhatian serius bagi pemerintah maupun dunia internasional.

“Kawasan ekosistem mangrove ini menjadi penting dan jadi atensi Pemerintah Indonesia dan dunia khususnya pada saat ini,” ujarnya dalam Kick Off Meeting dan Sosialisasi Pelaksanaan Forest Programme (FP) VI di Tanjung Selor, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Selasa (30/6/2026).

Berdasarkan penjelasannya, ekosistem mangrove memperoleh perhatian besar lantaran adanya ancaman perubahan iklim yang memicu kenaikan permukaan air laut. 

Sebab, ia memaparkan, dengan meningkatnya permukaan air laut, muncul berbagai ancaman nyata bagi Indonesia yang berstatus sebagai negara kepulauan.

“Akibat naiknya muka air laut bisa menenggelamkan beberapa pulau kecil atau berkurangnya luas daratan. Oleh karena itu, eksistensi mangrove menjadi penting saat ini di Indonesia,” katanya.

Nikolas mengutarakan, Kementerian Pertahanan pun telah memaparkan kepada Kemenhut dalam sejumlah pertemuan sebelumnya di Jakarta bahwa keberadaan mangrove memegang peran yang sangat esensial dalam melindungi kedaulatan wilayah perbatasan negara.

“Jadi ini menjadi penting pada saat adanya kenaikan muka air laut, adanya gelombang dan abrasi itu menjadi bahaya yang sangat signifikan pada pulau-pulau terluar di Indonesia yang selama ini menjadi batas negara,” tuturnya.

Apabila terjadi penciutan daratan yang berfungsi sebagai pembatas negara, ia menyambung, dampaknya tidak sekadar menyasar kedaulatan bangsa, melainkan juga pemanfaatan zona ekonomi eksklusif yang penentuannya biasa diukur dari garis pantai paling luar.

“Karena inilah posisi mangrove menjadi penting tidak hanya di Provinsi Kaltara, tetapi juga di seluruh wilayah Indonesia, dan yang perlu kami sadari adalah mangrove di Indonesia itu adalah mangrove terluas di dunia. Luasnya 3,4 juta hektare atau 23 persen dari keseluruhan mangrove dunia,” ungkap Nikolas.

Melalui bentangan hutan mangrove yang sedemikian luas tersebut, ia menambahkan, negara-negara lain menaruh perhatian yang sangat besar kepada Indonesia guna menyokong tata kelola ekosistem mangrove di tanah air, utamanya memosisikan Indonesia sebagai pusat percontohan rehabilitasi dan manajemen mangrove.

“Banyak negara lain yang sudah menjadikan Indonesia sebagai kunjungan untuk belajar bagaimana mangrove bisa dikelola berdasarkan kearifan lokal,” katanya.

Indonesia, ia meneruskan, memiliki ratusan corak kearifan lokal dalam hal tata cara masyarakat tradisional merawat mangrove secara spesifik di masing-masing daerah. 

Bahkan, ia menyebutkan, praktik pemeliharaan mangrove antara satu desa dengan desa tetangganya bisa saja berbeda meski berada dalam satu kabupaten atau wilayah administratif yang sama.

“Nah inilah yang menjadikan kekayaan kami di Indonesia yang perlu kami jaga dan perlu kami gaungkan ke dunia internasional bahwa Indonesia bisa menjaga kearifan lokal tetapi juga punya komitmen yang jelas dalam menjaga eksistensi mangrove di negara kami,” ujarnya.

Terkini