BPS Catat Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Menyusut 73,8 Persen

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:58:31 WIB
Aktivitas bongkar muat peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan bahwa akumulasi surplus neraca perdagangan barang Indonesia untuk kurun waktu Januari sampai Mei 2026 mengalami kemerosotan tajam hingga 73,8 persen jika dibandingkan dengan capaian di periode yang sama tahun lalu.

Berdasarkan catatan BPS, total nilai surplus neraca perdagangan selama lima bulan pertama di tahun 2026 tersebut tertahan di angka US$4,03 miliar.

Pencapaian ini anjlok sebesar 73,8 persen dari total profit neraca dagang pada masa Januari–Mei 2025 yang kala itu sanggup menembus angka US$15,38 miIiar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan bahwa walaupun mengalami tren penurunan, performa neraca dagang sektor barang nonmigas secara menyeluruh masih sanggup menorehkan angka positif.

"Hingga Mei 2026, neraca perdagangan barang [nonmigas] mencatat surplus US$4,03 miliar. Surplus sepanjang Januari–Mei 2026 terutama ditopang oleh surplus pada komoditas nonmigas sebesar US$16,31 miliar. Sementara itu, komoditas migas masih mengalami defisit, yaitu defisitnya US$12,28 miliar," jelas Ateng dalam konferensi pers, Rabu (1/7/2026).

Jika dibedah, penyusutan dalam capaian performa neraca perdagangan tanah air ini dilatarbelakangi oleh dua aspek utama, yakni menyusutnya margin keuntungan nonmigas serta kian melebarnya jurang kerugian di lini perdagangan migas.

Pada komoditas nonmigas, perolehan keuntungan sebesar US$16,31 miliar di masa Januari–Mei 2026 tersebut terdata lebih rendah daripada rekam jejak di periode yang sama tahun lalu yang kala itu surplusnya menyentuh US$23,10 miliar.

Di sudut lain, beban berat yang datang menghantam lini minyak dan gas bumi (migas) terpantau kian menebal secara signifikan.

Pihak BPS mengonfirmasi bahwa nilai kerugian neraca dagang sektor migas membengkak cukup parah, dari yang semula sebesar US$7,72 miIiar pada periode Januari–Mei 2025 menjadi minus US$12,28 miliar pada Januari–Mei tahun ini.

Sementara itu, untuk tiga negara yang tercatat memberikan kontribusi keuntungan neraca perdagangan paling melimpah bagi Indonesia selama kurun Januari—Mei 2026 adalah Amerika Serikat dengan nilai US$7,03 miliar, diikuti India sebesar US$5,29 miliar, serta Filipina senilai US$3,57 miliar.

Berbanding terbalik, daftar tiga negara yang menjadi pemicu kerugian terbesar pada neraca perdagangan Indonesia ditempati oleh China dengan nilai minus US$10,17 miliar, Australia sebesar minus US$3,99 miliar, dan Singapura menyentuh minus US$3,83 miliar.

Terkini