JAKARTA - Penurunan daya beli masyarakat mendorong emiten di sektor konsumsi dan ritel, PT Multi Medika Internasional Tbk. (MMIX), untuk merombak strategi bisnisnya.
Produsen tisu merek Miutiss hingga Miubaby ini memilih fokus menyajikan produk berukuran lebih ringkas dengan harga yang lebih terjangkau demi menyelaraskan diri dengan pergeseran perilaku belanja konsumen.
Dalam laporan teranyarnya, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data bahwa inflasi Juni 2026 menyentuh angka 0,44 persen secara bulanan, atau melaju lebih tinggi daripada capaian inflasi Mei 2026 yang sebesar 0,28 persen.
Secara tahunan, tingkat inflasi nasional berada pada level 3,34 persen, sedangkan untuk perhitungan sepanjang tahun kalender berjalan ini telah mencapai angka 1,79 persen.
Pergerakan naiknya Indeks Harga Konsumen dari posisi awal sebesar 111,40 pada Mei 2026 terpantau merangkak naik menuju angka 111,89 pada Juni 2026.
Founder & CEO MMIX Mengky Mangarek menguraikan bahwa elemen masyarakat saat ini bertindak semakin jeli dalam membelanjakan dana akibat gempuran tekanan ekonomi, depresiasi nilai tukar rupiah, serta lonjakan harga bahan baku produksi.
Kelompok konsumen yang semula rutin memborong pasokan logistik bulanan kini mulai bergeser ke pola belanja mingguan, bahkan sebagian beralih ke skema harian demi mengontrol anggaran pengeluaran.
"Perubahan pola konsumsi itu menjadi perhatian kami. Karena itu kami melakukan penyesuaian ukuran kemasan atau repackaging sehingga harga produk menjadi lebih terjangkau," ujarnya dikutip, Rabu (1/7/2026).
Dirinya menambahkan bahwa siasat bisnis tersebut diimplementasikan ke dalam jajaran produk andalan perseroan, seperti produk popok bayi, tisu kering, tisu basah, hingga air minum kemasan.
Komoditas yang sebelumnya dipasarkan dalam wadah berukuran besar kini akan didistribusikan dalam bentuk kemasan kecil demi menyesuaikan dengan sisa anggaran belanja masyarakat.
Di samping menyajikan varian ekonomis, MMIX mempertebal portofolio produk yang masuk dalam kategori kebutuhan pokok sehari-hari atau essential goods.
Pihak manajemen percaya kelompok barang seperti popok bayi, tisu, pembalut wanita, dan air mineral memiliki kurva permintaan yang jauh lebih kokoh dibandingkan barang non-esensial di kala ekonomi lesu.
"Yang kami cari adalah produk yang rutin, berulang, dan menjadi kebutuhan sehari-hari. Itu strategi kami agar bisnis tetap tahan banting dalam berbagai kondisi ekonomi," kata Mengky.
Emiten produsen popok bayi, tisu bambu, serta produk masker berlabel MIU ini tetap optimis mempertahankan target pertumbuhan omzet berkisar di level 25,3 persen pada 2026 dengan estimasi nilai penjualan menembus Rp388 miliar.
Skenario target performa tersebut bakal ditopang oleh ekspansi jaringan distribusi produk, peluncuran portofolio variasi baru, serta peningkatan volume kapasitas produksi pabrik popok bayi.
Meski begitu, manajemen MMIX memberikan catatan bahwa langkah ekspansi akan dieksekusi secara hati-hati dengan peluang menaikkan alokasi belanja modal di kisaran 20 persen yang realisasinya melihat kondisi pasar.
"Ekspansi akan kami lakukan secara prudent, dimulai dari riset pasar, melihat perilaku konsumen, serta daya beli masyarakat," ujarnya.
Saat ini perusahaan tengah merampungkan pengerjaan pabrik popok bayi dengan fasilitas modern yang berlokasi di kawasan Legok KM 5 melalui unit anak usaha perseroan.
Skema rencana investasi proyek pabrik ini dianggarkan bernilai total sekitar US$4 juta, dengan realisasi pembiayaan yang telah bergulir menyentuh angka US$600.000 atau setara 15 persen.
Operasional pabrik baru ini diharapkan mampu mempercepat lokalisasi aktivitas manufaktur untuk memangkas ketergantungan impor demi mengamankan margin profit di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Perseroan membidik penurunan porsi barang impor secara bertahap menuju level 80 persen pada tahun perdana, menyusut ke 60 persen di tahun kedua, hingga berada di bawah porsi 30 persen pada tahun ketiga operasional optimal pabrik.
Ke depan, perusahaan juga memacu ekspansi logistik lewat kemitraan strategis bersama PT Sari Ayu Indonesia atau SAI untuk memperlebar akses pasar menuju ke sekitar 300.000 jaringan toko baru.
Direktur Keuangan MMIX Eveline N Susanto memaparkan, pada Kuartal I 2026, perseroan sukses membukukan perolehan pendapatan usaha senilai Rp50,1 miliar atau tumbuh sebesar 2,6 persen secara tahunan.
Selaras dengan performa positif tersebut, capaian laba bersih perusahaan ikut terkerek naik signifikan menyentuh level Rp1,5 miliar, atau tumbuh sebesar 20,6 persen secara tahunan.
Di sisi lain, lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings merilis laporan bahwa emiten sektor konsumsi di Indonesia akan menghadapi tekanan hebat akibat fluktuasi makroekonomi dan regulasi.
Hambatan tersebut bersumber dari kenaikan harga BBM non-subsidi, pergerakan suku bunga acuan, serta pelemahan rupiah yang berisiko memicu inflasi tinggi dan menekan daya beli rumah tangga.
Kondisi tersebut rawan menggerus anggaran belanja masyarakat, khususnya untuk komoditas sekunder, di mana industri otomotif dan properti dinilai menjadi sektor yang paling rentan terdampak.