Psikolog Bagikan Solusi Hadapi Anak Mengamuk karena Masalah Gadget

Kamis, 02 Juli 2026 | 02:16:31 WIB
Ilustrasi anak bermain gadget.

JAKARTA - Banyak kalangan orang tua kerap menemui kondisi pelik ketika sang buah hati mendadak menangis, marah, hingga mengamuk histeris sewaktu perangkat gawai miliknya disita.

Kondisi tersebut sering kali memicu orang tua untuk memilih jalan pintas dengan mengalah dan menyerahkan kembali ponsel pintar atau komputer tablet demi membuat situasi kembali kondusif.

Padahal, pola tindakan yang demikian justru dinilai bakal semakin memperkokoh tingkat ketergantungan dan kecanduan sang anak terhadap pemakaian perangkat teknologi digital.

Seorang ahli psikologi dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta, Aisyah Almas Silmina, S.Psi., M.Psi., Psikolog, memberikan analisisnya.

Aisyah menyatakan bahwa timbulnya reaksi tantrum ketika gawai diambil merupakan suatu fenomena yang wajar dijumpai, terlebih jika anak terbiasa difasilitasi akses gawai tanpa batas waktu.

Meskipun begitu, jajaran orang tua sangat tidak dianjurkan untuk langsung menyerah begitu saja manakala diperhadapkan pada situasi emosional anak yang tidak terkontrol tersebut.

Terdapat sejumlah langkah taktis serta solutif yang bisa dipraktikkan agar sang anak dapat mulai belajar mengontrol gejolak emosi di dalam dirinya secara lebih sehat.

Langkah perdana yang wajib dipahami orang tua, menurut pemaparan Aisyah, adalah dengan menghindari kesalahan fatal berupa langsung menyerahkan kembali gawai kala anak mulai menangis atau mengamuk.

Tanpa disadari oleh orang tua, respons kompromi semacam itu justru menanamkan doktrin pada memori anak bahwa tantrum merupakan senjata paling ampuh untuk mendapatkan apa yang ia mau.

"Kalau fungsi tantrumnya adalah untuk mendapatkan gadget, jangan sampai setiap kali anak menangis gadget langsung diberikan. Nanti pola itu akan terus terbentuk," jelas Aisyah dalam Talkshow Keluarga Sehat Kementerian Kesehatan, dikutip Kamis (2/7/2026).

Oleh sebab itu, figur orang tua dituntut untuk senantiasa memegang teguh komitmen dan konsistensi terhadap segala rupa aturan main yang telah ditetapkan mengenai durasi penggunaan gawai.

Saat anak tengah didera luapan emosi tantrum yang meledak-ledak, Aisyah mengimbau para orang tua agar tidak terburu-buru mengambil tindakan untuk mengajak anak berdiskusi atau menasihatinya.

Biarkan sang anak menumpahkan segala bentuk emosi negatifnya terlebih dahulu sampai tuntas, dengan catatan orang tua harus tetap mengawasi guna menjamin kondisi di sekeliling anak aman.

Manakala suasana hati anak terindikasi sudah mulai berangsur tenang, barulah momen tersebut dimanfaatkan orang tua untuk mengajjaknya berbicara dari hati ke hati seputar apa yang dirasakan.

Momen ini juga menjadi waktu yang pas untuk menyuarakan kembali pasal aturan batas waktu penggunaan gawai yang sebelumnya sudah disepakati bersama antara anak dan orang tua.

Melalui penerapan metode persuasif ini, anak akan mengerti bahwa segala rupa dinamika emosi hanya bisa diselesaikan lewat jalur komunikasi yang sehat, bukan dengan cara menuntut gawai.

Tindakan menyita gawai secara sepihak tanpa diiringi dengan penyediaan opsi kegiatan alternatif lain yang menghibur juga diproyeksikan hanya akan membuat tingkat frustrasi anak semakin memuncak.

Atas dasar itulah, Aisyah memberikan rekomendasi kepada orang tua untuk segera mengalihkan fokus perhatian anak menuju ranah aktivitas fisik lain yang tidak kalah seru dan menyenangkan.

Beberapa contoh kegiatan tersebut di antaranya mengajak anak bermain di taman terbuka, mengasah kreativitas menggambar, memproduksi kerajinan tangan, membaca buku dongeng, bermusik, berenang, hingga bermain permainan tradisional.

Menurut analisisnya, tatkala perhatian anak berhasil tersedot oleh ragam kesibukan lain yang memikat hati, maka kadar hasrat untuk terus-menerus menatap layar gawai akan terkikis secara bertahap.

Aisyah kembali memberikan penekanan bahwa aspek konsistensi dari orang tua memegang peranan sebagai kunci utama dalam misi memangkas rantai ketergantungan anak pada teknologi visual.

Para orang tua dapat memformulasikan tabel jadwal pemakaian gawai harian secara ketat, termasuk mengondisikan area zonasi khusus di dalam rumah yang diperbolehkan untuk mengakses gawai.

Sebagai contoh, area ruang keluarga dapat menjadi tempat yang sah untuk bermain gawai, sementara area kamar tidur serta meja makan bersama wajib disterilkan dari segala rupa perangkat digital.

Langkah pembatasan ini bertujuan strategis agar anak tetap memiliki porsi waktu yang cukup untuk membangun komunikasi serta interaksi sosial yang hangat bersama segenap anggota keluarga.

Di samping memproduksi regulasi yang ketat bagi anak, jajaran orang tua juga diwajibkan untuk mampu mempertontonkan gaya hidup dan kebiasaan menggunakan teknologi secara bijaksana.

Sebab menurut sudut pandang Aisyah, anak-anak sejatinya merupakan figur peniru yang sangat ulung dalam merekam dan mengadopsi segala tindak-tanduk yang dicontohkan oleh orang tua mereka.

Akan menjadi sebuah hal yang kontradiktif apabila orang tua menuntut anak mengurangi durasi menatap layar gawai, sedangkan figur orang tua sendiri kedapatan sibuk memelototi ponsel sepanjang hari.

Oleh karena itu, sisihkanlah waktu khusus setiap harinya untuk bermain bersama, bertukar cerita, atau melangsungkan aktivitas kolektif tanpa ada intervensi dari gangguan notifikasi gawai.

Melalui pembuktian contoh riil tersebut, anak akan memetik pelajaran berharga bahwa momen kebersamaan yang hangat di dalam internal keluarga juga bisa menjadi sumber kebahagiaan yang besar.

Lantas, kapan waktu yang tepat bagi orang tua untuk mulai mencari bantuan dari pihak eksternal?

Jika dalam perkembangannya sang anak terus-menerus memperlihatkan gejala tantrum skala berat, menunjukkan hambatan fungsi aktivitas harian tanpa gawai, atau segala metode mandiri telah buntu.

Apabila berada dalam situasi darurat seperti itu, para orang tua sangat disarankan untuk segera melangsungkan sesi konsultasi bersama tenaga profesional seperti psikolog anak.

Langkah pendampingan dari ahlinya dinilai sangat efektif untuk mengidentifikasi akar penyebab penyimpangan perilaku anak, sekaligus merumuskan strategi penanganan medis yang akurat agar misi melepaskan ketergantungan gawai berjalan sukses.

Terkini