Kenali Risiko Terapi Inhalasi Tanpa Indikasi Medis pada Anak di Rumah

Kamis, 02 Juli 2026 | 05:57:31 WIB
Ilustrasi nebulizer.

JAKARTA - Kalangan orangtua zaman sekarang mempunyai kecenderungan untuk langsung memberikan terapi inhalasi menggunakan mesin penguap atau nebulizer setiap kali buah hati mereka menderita gejala batuk serta pilek. 

Aktivitas penguapan ini kerap dipandang sebagai pertolongan pertama yang paling mujarab dalam menanggulangi problem gangguan sistem pernapasan.

Topik hangat tersebut ikut menjadi bahan pembicaraan yang ramai di platform media sosial X, yang mana banyak tenaga kesehatan melempar peringatan bahwa mayoritas anak yang menderita batuk sebenarnya tidak memerlukan tindakan uap. Tindakan memakai nebulizer secara serampangan justru dinilai sanggup memicu efek buruk dibanding khasiatnya untuk kesehatan anak ke depan.

Ketua UKK Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Wahyuni Indawati, Sp.A., Subsp. Respi(K) mengonfirmasi jika perangkat pembantu pernapasan tersebut sekarang ini memang kian gampang diperoleh secara bebas oleh pihak keluarga. Namun, dokter yang aktif melayani pasien di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) serta Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) ini mewanti-wanti bahwa pemakaian nebulizer wajib memperhatikan target organ yang dituju.

"Terapi inhalasi ini adalah salah satu cara memberikan obat yang langsung masuk ke target organnya. Target organnya itu ke mana? Yaitu ke sistem respiratori, mulai dari hidung sampai dengan paru-paru," kata dr. Wahyuni dalam acara peluncuran Omron Nebulizer NE-U300 di Jakarta Selatan, Kamis (2/7/2026).

Lantaran mempunyai target sasaran yang sangat spesifik pada sistem pernapasan, maka penanganan problem batuk dan pilek biasa tidak boleh disamaratakan begitu saja menggunakan mesin uap obat. Metode penguapan ini sejatinya diproduksi khusus untuk mengubah zat obat berwujud cair menjadi aerosol demi menyembuhkan gangguan pernapasan tertentu seperti asma, bronkiolitis, atau croup.

Pemberian edukasi seputar indikasi medis tergolong sangat krusial agar kaum orangtua tidak sembarangan mengoperasikan perangkat uap digital di rumah. Gejala batuk pada dasarnya hanyalah sebuah bentuk respons proteksi dari tubuh kala menghadapi gangguan, sehingga langkah penyembuhannya wajib diselaraskan dengan penyakit utamanya.

"Tergantung dari sakit batuknya itu kenapa. Anak yang asma tapi gejalanya batuk, memang harus diobati dengan terapi inhalasi. Batuk yang lain, karena batuk bukan penyakit melainkan gejala, kami harus bisa mengenali penyebabnya," tutur dr. Wahyuni.

Jika penyakit batuk tersebut bersumber dari jenis gangguan kesehatan di luar penyakit asma, seperti infeksi saluran pernapasan ringan yang tidak menginfeksi paru-paru, maka pemanfaatan nebulizer sama sekali tidak mendesak untuk diaplikasikan. Kemunculan batuk serta pilek sesekali adalah sebuah siklus yang lumrah menimpa kelompok usia balita.

Dalam rentang waktu 1 tahun, seorang anak dengan kondisi fisik yang bugar terhitung wajar andai mengalami infeksi saluran pernapasan bagian atas sebanyak 6 kali. Selain bukan merupakan indikasinya, pemanfaatan mesin uap untuk meredakan pilek biasa dinilai kurang tepat sasaran lantaran dimensi partikel uap yang diproduksi tidak sinkron dengan organ tubuh.

Gangguan yang mendera area saluran napas bagian atas idealnya memerlukan partikel aerosol dengan dimensi yang cukup besar yaitu di atas 10 mikron. Di sudut lain, sistem mekanis pada alat nebulizer justru dirancang untuk memecah zat cair menjadi partikel super kecil berukuran 4 hingga 6 mikron agar sanggup masuk ke paru-paru bagian bawah.

"Kalau misalnya kami butuhnya hidung, ya pakai aja intranasal spray. Pakai aja cuci hidung. Itu lebih efektif sebenarnya, karena memang sesuai dengan target organ," ungkap dr. Wahyuni.

Apabila sang anak cuma mendapati problem hidung yang tersumbat, tindakan penanganan mandiri di rumah yang sangat dianjurkan ialah cukup dengan menambah kuantitas asupan cairan tubuh. Dokter Wahyuni memberikan saran kepada para ibu untuk lebih konsisten menyuguhkan konsumsi air putih hangat supaya lendir di hidung bisa mencair dan keluar secara alami.

Bukan sekadar keliru dari sudut pandang indikasi medis, menjalankan perangkat nebulizer tanpa disertai pemahaman perihal interface atau masker penghubung alat yang pas juga berisiko mendatangkan bahaya fatal. Pemakaian bagian corong mulut ataupun masker pelindung wajah wajib disesuaikan secara presisi dengan bentuk muka anak agar uap obat tidak rembes ke area wajah lainnya.

Sering kali, orangtua justru menjauhkan masker dari area wajah anak lantaran sang anak menangis ketakutan akibat terganggu oleh suara bising yang diproduksi oleh mesin kompresor nebulizer. Kondisi tersebut membuat anak seakan-akan cuma diasapi dari jarak jauh, yang berujung pada banyaknya obat yang terbuang sia-sia sekaligus berisiko mengenai wilayah mata.

Kelalaian dalam memosisikan komponen penghubung masker ini menyimpan ancaman serius di luar organ pernapasan, sebab sisa uap obat yang memapar area mata sanggup mengganggu fungsi penglihatan.

"Steroid ketika kena mata dan dalam jangka waktu yang lama hati-hati, bisa jadi katarak. Golongan antikolinergik itu bisa menyebabkan tekanan intraokular atau tekanan bola mata kami menjadi tinggi dan bisa glaukoma," papar dr. Wahyuni.

Demi mengantisipasi munculnya komplikasi medis yang berbahaya tersebut, sesi konsultasi bersama dokter anak wajib ditempuh terlebih dahulu sebelum orangtua memutuskan memasang alat bantu napas apa pun di rumah.

"Jadi, melakukan nebulisasi itu bukannya tanpa kewaspadaan. Alatnya harus baik dan dia harus betul, jangan sampai residunya banyak dan mengganggu organ lain," terang dr. Wahyuni.

Terkini