Jaga Surplus Kumulatif, Kemendag Gencarkan Perluasan Pasar Ekspor

Sabtu, 04 Juli 2026 | 16:43:01 WIB
Neraca Dagang Mei 2026 Defisit, Kemendag Genjot Pasar Ekspor [FOTO: NET].

JAKARTA — Kementerian Perdagangan (Kemendag) berencana memperlebar jangkauan pasar ekspor serta meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri demi menjaga performa perdagangan Indonesia.

 Langkah ini diambil seiring dengan kontribusi ekspor nonmigas yang konsisten menopang surplus neraca perdagangan secara kumulatif hingga Mei 2026.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyatakan bahwa pemerintah bakal terus memperkuat daya saing produk nasional lewat perluasan pasar ekspor untuk mempertahankan momentum pertumbuhan.

“Ke depan, pemerintah akan terus memperluas akses pasar ekspor sekaligus meningkatkan nilai tambah produk nasional agar kinerja ekspor tetap terjaga,” kata Budi dalam keterangan tertulis, dikutip pada Jumat (3/7/2026).

Neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mengalami defisit US$1,61 miliar akibat lonjakan impor di sektor migas. Meski demikian, Budi menilai Indonesia masih membukukan surplus sebesar US$4,03 miliar sepanjang Januari–Mei 2026. 

Capaian tersebut didorong oleh surplus perdagangan nonmigas sebesar US$16,31 miliar, yang mampu menutupi defisit sektor migas sebesar US$12,28 miliar.

Budi mengungkapkan bahwa hasil tersebut membuktikan perdagangan nonmigas tetap menjadi fondasi utama perdagangan luar negeri Indonesia.

“Meskipun neraca perdagangan Mei 2026 defisit, namun secara kumulatif, kinerja perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus. Ini membuktikan kinerja perdagangan nonmigas Indonesia masih tetap kokoh di tengah tantangan global,” ujarnya.

Kemendag melaporkan nilai ekspor Indonesia periode Januari–Mei 2026 mencapai US$115,36 miliar, tumbuh 3,02% secara tahunan. Pertumbuhan ini didorong oleh ekspor nonmigas yang naik 3,89% menjadi US$110,19 miliar, sementara ekspor migas turun 12,71% menjadi US$5,17 miliar.

Budi menuturkan industri pengolahan tetap menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekspor nasional. Menurutnya, kinerja sektor ini menunjukkan bahwa program hilirisasi dan penguatan daya saing produk manufaktur mulai membuahkan hasil. Sepanjang Januari–Mei 2026, ekspor industri pengolahan naik 6,80%.

 Kenaikan ini didukung oleh peningkatan ekspor aluminium (64,33%), nikel (60,88%), dan bahan kimia organik (31,04%), seiring dengan perbaikan harga komoditas dan naiknya permintaan global.

Di sisi lain, beberapa sektor mencatatkan pelemahan. Ekspor sektor pertanian turun 24,95%, sektor migas melemah 12,71%, serta sektor pertambangan dan lainnya turun 8,14%. Penurunan terdalam di sektor pertanian terjadi pada komoditas kakao (39,34%) dan kopi, teh, serta rempah-rempah (29,94%). Adapun di sektor pertambangan, penurunan terbesar dialami komoditas bijih logam, terak, dan abu sebesar 45,97%.

Selain itu, Kemendag mencatat pertumbuhan pasar ekspor nonmigas yang signifikan ke sejumlah negara, seperti Rumania (409,78%), Hong Kong (34,01%), Mesir (33,73%), Thailand (19,32%), dan China (17,68%).

Terkini