Pergeseran Tren Estetika Indonesia dan Minat Wajah Alami Gen Z

Minggu, 05 Juli 2026 | 18:29:01 WIB
Ilustrasi Wajah Natural.

JAKARTA - Tren ranah perawatan estetika medis terpantau terus mengalami pergeseran dinamis dari waktu ke waktu di kalangan masyarakat.

Jika dahulu bentuk wajah dengan hasil perubahan dramatis menjadi tujuan utama, kini justru makin banyak orang mendambakan hasil yang natural.

Fenomena pergeseran selera kecantikan ini juga terlihat kian nyata melanda pada pangsa pasar generasi muda atau kalangan Gen Z.

Bagi mereka, perawatan kulit bukan lagi sekadar solusi instan saat masalah muncul, melainkan bagian gaya hidup sehat jangka panjang.

Keinginan kuat untuk selalu tampil segar membuat beraneka ragam prosedur klinis estetika kini semakin diminati oleh publik.

Opsi perawatan pun kian variatif, mulai dari suntik skin booster, filler, collagen stimulator, hingga integrasi beberapa metode sekaligus.

Kendati demikian, limpahan opsi tersebut tidak jarang membuat masyarakat awam kebingungan dalam menentukan jenis perawatan yang paling pas.

Founder Beauty Sister Clinic, Elizabeth Lisa, menegaskan bahwasanya tidak ada satu sistem perawatan tunggal yang langsung cocok untuk semua orang.

Menurut pandangannya, tiap individu dianugerahi kondisi kulit, konstruksi tengkorak wajah, hingga ritme penuaan yang berbeda sehingga butuh pendekatan personal.

"Dokter akan menentukan prioritas perawatan setelah melihat kebutuhan masing-masing orang. Tidak ada wajah yang sama. Kami harus mengecek kondisi kulit, bentuk wajah, proporsi wajah, simetri wajah, termasuk ekspresinya karena setiap orang memiliki tipe yang berbeda, termasuk proses aging-nya," ujar Elizabeth Lisa.

Fase penuaan ragawi pada dasarnya adalah siklus alamiah yang mustahil untuk dielakkan oleh makhluk hidup seiring bertambahnya usia.

Secara bertahap, jaringan kulit akan kehilangan daya elastisitasnya sehingga memicu penampakan garis halus, kulit kendur, hingga kerutan.

Faktor pemicu utamanya dikarenakan merosotnya produksi zat kolagen yang berperan vital selaku fondasi penyokong struktur alami kulit.

Di samping itu, penyusutan volume bantalan lemak di lapisan bawah kulit turut melahirkan area cekungan baru di pipi maupun kantung mata.

Menurut dokter yang akrab disapa Lisa ini, kemerosotan produksi kolagen faktanya sudah mulai berjalan semenjak seseorang menginjak usia 20 tahun.

"Mulai usia 20 tahun, kolagen yang hilang sekitar 1 persen setiap tahun. Pada usia 40 tahun, sekitar 20 persen kolagen sudah hilang. Jadi lebih baik melakukan perawatan sebagai pencegahan daripada menunggu tanda penuaan semakin banyak yang akhirnya membutuhkan biaya lebih besar," jelasnya.

Masifnya paparan konten kecantikan di ruang digital sukses memikat atensi publik untuk menjajal beraneka ragam prosedur klinis estetika.

Namun, Lisa mengingatkan publik khususnya kaum Gen Z agar tidak gegabah memilih jenis perawatan medis hanya karena alasan sedang viral.

Dirinya sangat menyarankan masyarakat untuk meluangkan waktu berkonsultasi terlebih dahulu bersama tim dokter ahli yang berkompeten di bidangnya.

Langkah ini penting agar hasil akhir yang diperoleh tetap terlihat proporsional, aman, harmonis, serta memancarkan kesan yang alami.

"Pemilihan terapi sebaiknya dilakukan berdasarkan kebutuhan masing-masing melalui konsultasi dengan dokter yang kompeten sehingga hasil yang didapat tidak hanya optimal, tetapi juga tetap natural, harmonis, dan aman," katanya.

Seiring kemajuan teknologi, metode penggabungan beberapa jenis perawatan sekaligus dalam satu sesi kini kian digandrungi oleh pasien.

Satu di antara formula kombinasi yang mulai naik daun adalah penyatuan collagen stimulator PLLA-SCA dengan pengaplikasian filler berteknologi NASHA dan OBT.

PLLA-SCA bertugas memicu produksi kolagen alami tubuh secara mandiri guna menaikkan kekenyalan kulit dan memberikan efek pengencangan berkala.

Sementara itu, filler NASHA dan OBT diaplikasikan secara spesifik berdasarkan karakteristik dan dinamika pergerakan otot pada tiap area wajah.

"Dengan dua teknologi ini, dokter dapat melakukan personalized treatment sehingga hasilnya lebih natural, proporsional, dan sesuai kebutuhan masing-masing pasien. Filler memberikan efek instan untuk mengisi cekungan di bawah mata, pipi, dagu, atau rahang, sedangkan collagen stimulator bekerja bertahap dan hasilnya semakin terlihat seiring waktu," jelasnya.

Dirinya mengimbuhkan bahwa efektivitas dari collagen stimulator PLLA-SCA ini diklaim sanggup bertahan lama hingga kurun waktu 25 bulan.

Metode ini juga sangat aman untuk dikombinasikan bersama filler lantaran keduanya bekerja pada lapisan anatomi dan mekanisme yang berbeda.

Terkini