Alasan Generasi Dewasa Muda Termasuk Gen Z Kini Menjadi Kurang Bahagia

Minggu, 05 Juli 2026 | 20:01:01 WIB
Ilustrasi bekerja.

JAKARTA - Selama kurun waktu bertahun-tahun, sederet hasil riset memaparkan bahwa tingkat kebahagiaan umat manusia senantiasa membentuk kurva serupa huruf U.

Indikator tersebut bermakna grafiknya melonjak tinggi kala berumur muda, merosot sewaktu menginjak fase paruh baya, lalu berbalik mendongkrak kembali begitu memasuki klaster lansia.

Namun, tren perputaran roda emosional tersebut belakangan ini diindikasikan mulai bergeser, khususnya semenjak Generasi Z atau Gen Z mulai bertransfomasi menapaki fase kedewasaan.

Menyadur lansiran dari YourTango (3/7/2026), sebuah studi ilmiah teranyar menjumpai fakta miris bahwa kelompok usia dewasa muda saat ini justru menjadi klaster masyarakat yang paling tidak bahagia.

Alih-alih menyentuh puncak kepuasan batin di masa muda, grafik kebahagiaan pada era sekarang justru condong merangkak naik searah dengan bertambahnya kematangan usia seseorang.

Bahkan fenomena unik ini bergulir mulus tanpa perlu lagi melewati fase penurunan emosional yang signifikan pada rentang umur paruh baya seperti pola masa lampau.

Berdasarkan analisis studi bersangkutan, format kurva kebahagiaan berbentuk huruf U yang selama puluhan tahun diyakini kebenarannya kini dilaporkan mulai memudar.

Jajaran pengamat mendapati indikasi bahwa kelompok masyarakat berumur di bawah 45 tahun mencatatkan kemunduran level kepuasan hidup sepanjang beberapa tahun belakangan.

Gejala pergeseran orientasi psikologis tersebut terpantau paling kentara dalam kurun waktu antara periode tahun 2019 sampai dengan tahun 2024.

Bahkan, tim ahli menggambarkan potret kondisi psikis sebagian kalangan muda tersebut tengah terjerembap ke dalam fase keputusasaan (state of despair).

Para pakar terus berupaya membongkar akar masalah mengapa derajat kesehatan mental generasi muda merosot tajam jika disandingkan dengan kelompok usia tua.

Meski demikian, hingga detik ini jajaran peneliti belum bisa mendeklarasikan satu variabel absolut yang bertindak selaku pemicu utama dari fenomena sosial tersebut.

Menurut pandangan para ilmuwan, indikasi degradasi kebahagiaan ini sejatinya sudah mulai terdeteksi sebelum momen pagebluk Covid-19 melanda dunia.

Melalui rilis laporannya, jurnalis kawakan dari The New York Times Well, Christina Caron menguraikan bahwa kalangan muda tidak semata-mata merasa hampa dari rasa bahagia.

Mereka dilaporkan turut memandang jalinan relasi sosial yang mereka dekap tidak lagi kokoh dan menilai kadar orientasi tujuan hidup mereka kian menipis.

Imbas dari rentetan problem psikososial tersebut memicu banyak dari mereka merasa tidak benar-benar berkembang secara utuh (flourishing).

Jajaran peneliti mengartikan istilah flourishing sebagai suatu fase ideal ketika seluruh variabel kehidupan seorang individu mampu beroperasi secara maksimal.

Output riset ini memperlihatkan bahwa problematika yang menjerat kaum muda bukan cuma seputar fluktuasi suasana hati, melainkan menyentuh kualitas hubungan serta makna hidup.

Kontras dengan kondisi tersebut, studi paralel di kawasan Inggris justru mempertontonkan konfirmasi hasil yang bertolak belakang pada klaster kelompok lanjut usia.

Masyarakat yang berada pada rentang umur 65 hingga 79 tahun dilaporkan masih menggenggam tingkat kepuasan serta kebahagiaan hidup yang tergolong tinggi.

Grafik kebahagiaan mereka terpantau baru mengalami sedikit penyusutan setelah melewati usia 80 tahun akibat munculnya tumpukan kendala penurunan fungsi kebugaran fisik.

Menurut perspektif psikiater klinis Profesor Julia Lappin, salah satu aspek krusial yang melatarbelakangi fenomena tersebut ialah kepemilikan cara pandang yang positif terhadap proses penuaan.

"With being positive, behaviors that support better physical health will emerge," kata Lappin.

Ia mengimbuhkan bahwa demi memelihara kesehatan sel otak seiring bertambahnya angka usia, seseorang wajib konsisten aktif secara kognitif, motorik, serta sosial sepanjang hayat.

Pandangan senada turut diapungkan oleh seorang dokter spesialis geriatri, Profesor Velandai Srikanth terkait siklus alami kehidupan manusia.

"Age is not a disease; age is just time," ujarnya.

Ia memberikan penekanan bahwa proses bertambahnya umur seseorang tidak selalu berkorelasi langsung dengan penurunan status kesehatan ragawi yang buruk.

Berdasarkan publikasi YourTango, pergeseran kurva kebahagiaan ini berjalan selaras dengan kepungan problem multidimensi yang tengah dihadapi oleh kelompok Gen Z.

Generasi ini didapati mendekap status kesehatan mental yang lebih rapuh jika dikomparasikan dengan jajaran generasi terdahulu.

Di samping itu, mereka juga wajib bertarung melawan himpitan tensi tinggi terkait jenjang karier serta pemenuhan stabilitas proteksi finansial masa depan.

Bahkan, tingkat pengangguran pada klaster Gen Z dilaporkan berada di posisi sekitar tiga angka poin lebih tinggi di atas rata-rata nasional.

Pada aspek fundamental lain, Gen Z lahir sebagai generasi perdana di bumi yang tumbuh besar di kala ekosistem media sosial telah menyatu dalam denyut nadi harian.

Para pengamat menilai paparan konten dunia digital andal mendikte tumbuh kembang otak sekaligus melipatgandakan intensitas kecemasan batin.

Psikolog klinis Dr. Orna Guralnik turut memberikan opini bahwa mayoritas kaum muda masa kini memandang lanskap masa depan mereka dengan tendensi yang suram.

Merujuk dokumen laporan tersebut, ikhtiar mengembalikan derajat kebahagiaan kaum muda disinyalir kuat menuntut adanya konversi masif pada pola hidup serta struktur sosial makro.

Terkini