Harga Cabai Rawit di Aceh Tamiang Naik Jadi Rp50 Ribu per Kg

Senin, 06 Juli 2026 | 01:31:01 WIB
Ilustrasi Cabai Rawit.

JAKARTA - Nilai jual komoditas cabai rawit di kawasan Pasar Pagi Kota Kualasimpang, Kabupaten Aceh Tamiang, mengalami lonjakan tajam hingga menyentuh angka Rp50 ribu per kilogram.

Peningkatan harga sebesar Rp20 ribu dari harga awal yang berada di kisaran Rp30 ribu per kilogram tersebut dilaporkan telah berlangsung selama tiga hari terakhir.

Seorang pedagang bahan pokok di Pasar Pagi Kualasimpang, Andi, mengutarakan bahwa stok cabai rawit yang dipasarkan oleh pedagang saat ini dipasok dari wilayah Medan, Sumatera Utara.

"Harga cabai rawit hari ini Rp50 ribu per kilogram. Sebelumnya Rp30 ribu dan sudah tiga hari bertahan di angka itu. Pasokan cabai rawit kami ambil dari Medan," kata Andi, Senin (6/7/2026).

Di samping komoditas cabai rawit, tren kenaikan juga diikuti oleh komoditas cabai hijau yang merangkak naik ke angka Rp36 ribu per kilogram dari harga semula Rp26 ribu per kilogram.

Sementara itu, untuk varian cabai merah saat ini dilepas dengan harga Rp35 ribu per kilogram dan kelompok cabai caplak diperdagangkan pada harga Rp38 ribu per kilogram.

Melihat pada sektor bumbu dapur lainnya, harga bawang merah dipatok Rp36 ribu per kilogram, komoditas bawang putih Rp42 ribu per kilogram, kentang Rp14 ribu per kilogram, serta tomat Rp20 ribu per kilogram.

Berbanding terbalik dengan kondisi kelompok cabai, kendala utama yang kini dirasakan oleh para pedagang pasar ialah menipisnya ketersediaan pasokan komoditas beras premium asal wilayah Aceh.

Sampai dengan Senin (6/7/2026), jenis beras yang dipasarkan di Pasar Pagi Kota Kualasimpang sebagian besar bersumber dari kiriman luar daerah karena pasokan dari daerah Aceh Utara belum kunjung tiba.

Menurut keterangan Andi, menyusutnya volume kiriman pasokan beras dari produsen lokal tersebut dipicu oleh kondisi areal persawahan di daerah Aceh Utara yang sempat berulang kali diterjang bencana banjir.

Kondisi tanaman padi yang sempat tergenang air luapan banjir didapati kembali mengalami kerusakan parah sesaat setelah genangan menyusut, sehingga berdampak buruk pada total kapasitas panen para petani.

"Untuk beras premium biasa kosong. Sekarang yang ada beras dari Medan. Beras dari Aceh masih susah karena sawah di Aceh Utara sempat kebanjiran, kemudian surut dan tidak lama banjir lagi. Kemungkinan itu yang membuat pasokannya berkurang," ujarnya.

Terkini