Penelitian Ungkap Cara Tepat Meminta Bantuan agar Dikabulkan

Senin, 06 Juli 2026 | 06:32:32 WIB
Ilustrasi Sedang berdiskusi dengan rekan kerja.

JAKARTA - Metode yang digunakan seseorang ketika mengajukan permohonan bantuan dapat memengaruhi peluang dikabulkannya permintaan tersebut. Kendati demikian, riset terbaru mengindikasikan bahwa banyak individu justru cenderung terlalu optimistis saat meminta bantuan kepada orang lain.

Disiarkan oleh laman Psychology Today pada Minggu waktu setempat, riset yang dipimpin oleh sosiolog bernama Andrew Chalfoun dari University of California, Los Angeles (UCLA) memetakan tiga jenis pendekatan utama ketika seseorang memohon pertolongan.

Metode pertama yakni pesimistis, di mana pemohon memberikan celah kepada lawan bicara untuk menolak, contohnya dengan berujar, "Saya tahu Anda mungkin sibuk, tetapi...".

Metode kedua yaitu sopan rasional, yang mana pemohon menyesuaikan cara meminta tolong dengan menimbang bobot bantuan serta tingkat kedekatan hubungan dengan orang yang dimintai tolong.

Sementara itu, metode ketiga adalah optimistis, yakni menyodorkan permohonan bantuan dengan keyakinan penuh bahwa permintaan tersebut pasti dipenuhi oleh lawan bicara.

Guna mendeteksi metode mana yang paling sering diterapkan, tim peneliti melakukan analisis terhadap hampir 92 jam rekaman obrolan yang memuat 194 kasus permintaan tolong dalam tujuh bahasa berbeda, meliputi Arab, Inggris, Italia, Longando, Saek, Siwu, serta Ticuna.

Hasil studi membuktikan bahwa permohonan bantuan dalam skala besar sebetulnya hanya dikabulkan sekitar 11 hingga 25 persen saja. Walau begitu, mayoritas orang tetap condong memilih metode optimistis dan sangat jarang memakai kalimat pembuka yang memberikan kesempatan bagi orang lain untuk menolak halus.

Berdasarkan penjelasan peneliti, temuan ini memperlihatkan adanya bias kognitif yang memicu seseorang untuk lebih terpaku pada kemungkinan terbaik daripada memperhitungkan risiko munculnya penolakan.

Tim peneliti menilai bahwa metode yang paling ampuh bukanlah selalu bersikap optimistis ataupun pesimistis, melainkan dengan menyelaraskan cara meminta pertolongan sesuai dengan keadaan yang dihadapi.

Permintaan berskala besar yang ditujukan kepada orang yang kurang dekat sebaiknya diutarakan dengan memberikan kelonggaran agar lawan bicara dapat menolak tanpa merasa kikuk. Kebalikannya, permintaan kecil kepada orang terdekat bisa disampaikan secara langsung.

Di samping mendongkrak peluang untuk memperoleh pertolongan, ketepatan dalam menyampaikan permohonan juga dipandang mampu mempertahankan keharmonisan dalam ikatan sosial.

Menurut tim peneliti, permintaan yang terlalu mengasumsikan persetujuan dapat memicu perasaan tidak nyaman bagi orang lain ketika terpaksa menolak, sehingga berisiko melahirkan rasa bersalah dan kecanggangan dalam hubungan.

Terkini