Ekonom Sebut Lima Kunci Pertumbuhan Korporasi yang Berkualitas

Selasa, 07 Juli 2026 | 04:09:40 WIB
Ilustrasi Mata Uang Rupiah dan Dollar.

JAKARTA — Laju pertumbuhan kinerja dari suatu korporasi yang berkualitas dinilai paling ditentukan oleh kapabilitas manajemen dalam memelihara keseimbangan antara pertumbuhan pendapatan, posisi arus kas, margin keuntungan, mutu aset, hingga kedisiplinan biaya.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI), Josua Pardede, berujar perusahaan yang hanya tumbuh dari sisi penjualan belum tentu sehat jika pertumbuhannya dibayar dengan utang mahal, persediaan menumpuk, piutang memburuk, atau margin tergerus.

Dirinya mencermati bahwa keberhasilan laju pertumbuhan perusahaan yang bernilai tinggi pada tahun 2025 ditentukan oleh lima variabel penting, meliputi aspek permintaan kuat serta berulang, margin yang terjaga, arus kas sehat, tata kelola kredibel, dan kapasitas inovasi.

“Adapun, sektor yang paling tangguh adalah sektor yang dekat dengan kebutuhan dasar, transaksi harian, konektivitas, kesehatan, logistik, dan jasa keuangan yang prudent,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip pada Selasa (7/7/2026).

Dipaparkan oleh Josua, sektor usaha yang mendapatkan rintangan paling berat pada tahun kemarin merupakan lini bisnis yang tergolong sensitif terhadap pergerakan daya beli, fluktuasi biaya energi, volatilitas nilai tukar, serta permintaan pasar global.

“Sebab itu, dalam kondisi ekonomi yang makin selektif, pemenangnya bukan perusahaan yang tumbuh paling cepat, melainkan perusahaan yang tumbuh paling sehat, paling efisien, dan paling dipercaya pasar,” tegasnya.

Lebih mendalam, dirinya menilai faktor esensial berikutnya yang menjadi penentu kualitas pertumbuhan suatu korporasi adalah ketajaman insting dalam membaca pergeseran pola permintaan konsumen.

Sepanjang tahun 2025 hingga awal tahun 2026, wilayah pasar domestik diposisikan sebagai penopang bisnis utama, akan tetapi karakter daya beli dari kelompok masyarakat kelas menengah terindikasi mulai bergerak lebih selektif.

Perusahaan yang bergerak memproduksi kebutuhan pokok, layanan esensial, bidang kesehatan, jasa keuangan, telekomunikasi, logistik, serta produk penunjang aktivitas harian masyarakat diprediksi akan jauh lebih tangguh.

Sebaliknya, korporasi yang bergantung penuh pada penjualan barang tahan lama, ekspor komoditas, ataupun serapan pasar global cenderung lebih rentan terimbas di saat harga komoditas melemah dan permintaan eksternal menyusut.

“Data terbaru BPS menunjukkan ekspor Mei 2026 turun 5,73% secara tahunan, sementara impor naik 22,16%, sehingga neraca perdagangan mengalami defisit pertama dalam lebih dari enam tahun. Ini memberi sinyal bahwa tekanan eksternal dan biaya input semakin penting bagi korporasi,” ungkapnya.

Lebih jauh lagi, Josua menjabarkan bahwa aspek tata kelola internal perusahaan memegang peranan yang sangat krusial untuk dijaga keberlangsungannya.

Sebab, di tengah kondisi makro ekonomi yang penuh tantangan, pasar serta kalangan kreditur akan cenderung menjatuhkan pilihan pada entitas bisnis yang transparan, disiplin, dan memiliki kredibilitas tinggi.

Penerapan tata kelola yang bersih bukan lagi sekadar pemenuhan kewajiban administratif semata, melainkan sudah menjelma sebagai instrumen strategis untuk menekan biaya modal korporasi.

Langkah inovasi serta transformasi ke ranah digital pun kini telah bergeser menjadi syarat wajib guna menjaga daya saing korporasi di pasar, bukan lagi sekadar sebagai program pelengkap bisnis.

Digitalisasi terbukti efektif dalam membantu manajemen menekan pos pengeluaran, mempercepat durasi pelayanan, memetakan perilaku konsumen, menata rantai pasok, memperkuat sistem pembayaran, hingga mendongkrak pengalaman pelanggan.

“Namun, digitalisasi tidak boleh hanya berupa aplikasi atau kanal penjualan baru. Yang lebih penting adalah perubahan proses bisnis, kualitas data, keamanan siber, dan kemampuan perusahaan mengambil keputusan lebih cepat berbasis informasi yang lebih akurat,” tegasnya.

Josua mengimbau bagi setiap korporasi yang membidik pertumbuhan jangka panjang berkualitas agar mulai menjauhi taktik bisnis yang sekadar mengejar target volume penjualan semata.

Prioritas manajemen semestinya dialihkan untuk fokus pada pengembangan produk bermargin sehat, menyasar basis pelanggan yang sehat secara finansial, menciptakan efisiensi logistik, mengelola utang secara konservatif, memitigasi risiko kurs, serta diversifikasi pasar.

Bagi perusahaan yang bergerak di sektor konsumsi, strategi utamanya adalah mengadaptasi ukuran produk serta formula harga agar tetap selaras dengan jangkauan kantong masyarakat.

Sedangkan untuk sektor industri manufaktur, fokusnya terletak pada penghematan bahan baku baku, penguatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), serta perluasan jangkauan pasar ekspor ke wilayah nontradisional.

“Sementara itu, untuk sektor keuangan, kuncinya adalah menjaga kualitas kredit dan tidak terjebak pada pertumbuhan pembiayaan berisiko tinggi,” pungkasnya.

Terkini