Tantangan saat Menjalin Hubungan Kasih dengan Pasangan Tipe Avoidant

Selasa, 07 Juli 2026 | 06:19:01 WIB
Ilustrasi pasangan.

JAKARTA - Merajut jalinan asmara bersama seseorang yang mengadopsi avoidant attachment style sering kali mendatangkan rasa bimbang. Di satu sisi, mereka mampu memperlihatkan kepedulian yang hangat, namun di sisi lain dapat mendadak membangun dinding pembatas ketika relasi emosional mulai melangkah ke arah yang lebih intim.

Terapis berlisensi Jennifer Jacobsen Schulz, LCSW menjabarkan bahwa karakteristik kepribadian menghindar tersebut umumnya berakar dari pola asuh masa kecil yang kurang konsisten.

“Untuk melindungi diri dari rasa sakit emosional, mereka yang memiliki gaya keterikatan menghindar menjaga jarak dalam hubungan dan tampak dingin atau acuh tak acuh,” jelas Schulz, seperti dikutip Marriage, Senin (6/7/2026).

Imbasnya, ketika menginjak usia dewasa, kelompok individu ini akan memandang sebuah keintiman rasa sebagai suatu hal yang spekulatif, sehingga mereka berupaya membentengi diri lewat penciptaan jarak emosional.

Berikut adalah sejumlah kendala yang kerap dijumpai ketika merajut jalinan kasih bersama seorang pasangan yang bersifat avoidant.

Pasangan cenderung menjaga jarak secara emosional Kendala utama yang paling sering dirasakan oleh pasangannya adalah adanya hambatan untuk bersikap transparan seputar isi hati. Ketika jalinan kasih melangkah ke fase yang lebih dalam atau dihantam suatu friksi, mereka cenderung memilih untuk memisahkan diri dibanding mengurai persoalan bersama.

Situasi tersebut rentan memicu ketersinggungan atau memantik keraguan atas keseriusan jalinan kasih yang sedang dibangun.

Padahal, opsi penarikan diri itu sejatinya merupakan sebuah tameng defensif personal dan bukan menjadi representasi atas pudarnya rasa sayang. Suatu riset membuktikan bahwa kesediaan untuk saling menerima kerapuhan pasangan secara bijak terbukti efektif mempererat ikatan rasa sejak masa awal penjajakan.

Sulit mengekspresikan kasih sayang Kaum dengan kecenderungan avoidant juga jamak mengalami hambatan untuk mengutarakan rasa cinta melalui metode konvensional, seperti berucap kata mesra maupun validasi afeksi fisik.

Rasa sayang yang mereka miliki sebenarnya sepenuhnya tulus, namun metode penyampaiannya saja yang dikemas secara berbeda. Akibatnya, kekasih mereka rentan merasa kurang dipedulikan walau sejatinya jalinan asmara tersebut dinilai sangat krusial bagi diri mereka sendiri.

Menurut ulasan Schulz, aksi menjaga jarak emosional ini menjadi sebuah trik untuk mengeliminasi potensi luka hati yang mereka cemaskan bakal timbul tatkala terlalu menggantungkan diri pada orang lain.

Takut kehilangan kebebasan Fase relasi yang melangkah semakin serius terkadang justru bertransformasi menjadi pemicu kepanikan tersendiri bagi kelompok avoidant. Mereka sebetulnya mendambakan sebuah kedekatan, namun di waktu yang bersamaan menyimpan kecemasan mendalam akan hilangnya privasi dan kemandirian diri.

Kondisi tersebut melahirkan sebuah siklus push and pull, yakni sebuah momentum di mana mereka sesekali bersikap dekat lalu seketika menjauh kembali saat tensi hubungan dirasa terlalu mengikat.

Bagi sang kekasih, inkonsistensi sikap ini tentu sangat membingungkan dan rawan memicu lahirnya rasa tidak aman. Padahal, kecemasan tersebut murni bersumber dari urgensi penjagaan hak otonomi diri dan bukan dilandasi oleh motif untuk menyudahi komitmen asmara.

Cenderung menghindari konflik Alih-alih mengurai problematika lewat ruang dialog bersama, figur avoidant lebih condong memilih opsi bungkam, mengaburkan topik pembicaraan, atau menjauh untuk sementara waktu. Mereka memandang sebuah perdebatan sebagai suatu agenda yang sangat menguras stabilitas energi psikologis.

Pola kebiasaan ini memicu tumpukan masalah di dalam relasi asmara lantaran tidak pernah mendapatkan solusi penyelesaian yang tuntas.

Dampaknya, pihak pasangan bisa merasa aspirasi serta emosinya tidak mendapatkan ruang untuk didengarkan. Metode komunikasi yang rileks serta jauh dari kesan menyudutkan dinilai jauh lebih efektif ketimbang mendesak mereka untuk lekas terbuka.

Komitmen jangka panjang terasa menakutkan Mengulas topik seputar proyeksi masa depan, keputusan tinggal serumah, ataupun agenda pernikahan dapat menjelma sebagai sebuah rintangan berat bagi kelompok pemilik kecenderungan menghindar. Mereka pada umumnya memerlukan durasi waktu yang relatif lebih panjang sebelum akhirnya mantap mengambil keputusan komitmen besar.

Kendala ini bukan menjadi indikator bahwa mereka tidak menaruh rasa cinta kepada pasangannya.

Sebaliknya, mereka kerap memandang sebuah ikatan resmi sebagai gerbang yang membawa risiko hilangnya kedaulatan kebebasan atau potensi menghadapi luka emosional baru. Maka dari itu, merajut asmara bersama tipe avoidant menuntut sediaan rasa sabar, dialog yang konsisten, serta asupan rasa aman agar mereka perlahan nyaman meleburkan diri.

Terkini