Zulkifli Hasan: Pilah Sampah Jadi Kunci Pengelolaan Jadi Energi

Rabu, 08 Juli 2026 | 22:26:32 WIB
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyerahkan penghargaan kepada perwakilan desa adat saat Deklarasi Gerakan Pilah Sampah se-Bali dalam Apel Siaga Pilah Sampah Bali di Lapangan Puputan Margarana, Denpasar, Bali, Selasa (7/7/2026).

JAKARTA - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menegaskan bahwa pemisahan jenis sampah secara langsung dari sumbernya merupakan kunci utama agar sistem manajemen sampah, termasuk pengoperasian fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL), bisa berlangsung secara efektif.

Zulhas memaparkan bahwa penerapan teknologi modern dalam memproses limbah tidak akan pernah membuahkan hasil maksimal tanpa dibarengi pergeseran pola pikir dan kebiasaan masyarakat untuk memisahkan sampah di lingkup rumah tangga.

“Pilah sampah bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Jika sampah dipilah sejak dari rumah, sampah organik dapat dimanfaatkan menjadi kompos atau pakan ternak, sedangkan sampah anorganik dapat didaur ulang maupun diolah menjadi energi,” kata Zulhas dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Rabu.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menko Pangan sewaktu mengawal agenda Deklarasi Gerakan Pilah Sampah se-Bali yang dikemas lewat Apel Siaga Pilah Sampah Bali di kawasan Lapangan Puputan Margarana, Denpasar, Bali, Selasa (7/7/2026).

Aksi massal ini digulirkan sebagai bentuk kontribusi nyata demi menyukseskan program berskala nasional yakni Gerakan Nasional Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik dan Indah).

Zulhas menilai aktivitas memisahkan sampah sejak awal di hulu menjadi basis fundamental guna memperkokoh tata kelola kebersihan, utamanya dalam menyokong rencana pendirian fasilitas PSEL di wilayah Bali.

Ia menambahkan bahwa pihak jajaran eksekutif terus berupaya mempercepat penuntasan problematika limbah di Bali, yang mencakup penataan area Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung sekaligus pematangan sarana PSEL.

Pihak Pemerintah Provinsi Bali sendiri sempat merilis data bahwa pasokan limbah di daerah tersebut menyentuh angka berkisar 3.400 ton per hari, dengan titik pasokan paling masif berasal dari wilayah Kota Denpasar yang menembus 1.000 ton per hari.

Jajaran birokrasi memasang target bahwa infrastruktur PSEL Denpasar Raya yang mempunyai daya tampung pemrosesan sampai angka 1.200 ton sampah per hari bakal mulai berfungsi resmi pada tahun 2027 sebagai strategi memangkas penumpukan sisa konsumsi sekaligus memproduksi energi alternatif.

Zulhas kembali menggarisbawahi bahwa tingkat keberhasilan penggunaan sarana pengolahan limbah ini sangat bergantung pada keterlibatan andil nyata warga lewat habituasi memilah jenis sampah di tempat tinggal masing-masing.

“Inilah kunci agar pengelolaan sampah berjalan efektif,” ujarnya.

Dirinya turut memberikan apresiasi positif terhadap pihak Pemerintah Provinsi Bali yang sudah menerbitkan instrumen Peraturan Gubernur guna menggalakkan aksi pemisahan limbah sejak dini dari hulu.

Meski demikian, Zulhas mengingatkan bahwa implementasi regulasi lokal itu masih tetap memerlukan proses supervisi serta pendampingan secara kontinu agar seluruh elemen masyarakat konsisten melakoninya.

Pertemuan apel siaga ini turut dihadiri langsung oleh Gubernur Bali I Wayan Koster, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Bali, perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup, serta seluruh bupati dan wali kota sewilayah Bali.

Dalam momentum berharga tersebut, pihak otoritas turut menyerahkan tanda apresiasi kehormatan kepada 10 perwakilan desa dan desa adat di Bali yang dipandang sukses mengimplementasikan metode manajemen sampah berbasis hulu.

Penyerahan apresiasi ini ditargetkan mampu memicu perluasan kultur pemisahan limbah sebagai tiang penyangga utama dalam membangun ekosistem ekonomi sirkular serta manajemen sampah yang ramah lingkungan secara berkelanjutan.

Terkini