Alasan Unik Daging Sapi Disebut Beef Bukan Cow dalam Bahasa Inggris

Rabu, 08 Juli 2026 | 04:12:01 WIB
Ilustrasi daging sapi.

JAKARTA — Bahasa Inggris diakui sebagai salah satu bahasa yang penuh dengan keunikan tersendiri. Selain mempunyai aneka kosakata dengan ejaan ataupun pelafalan yang kerap membingungkan, bahasa ini turut menyimpan rekam jejak historis yang panjang di balik penamaan menu hidangan yang dipakai sampai detik ini.

Salah satu contoh nyatanya bisa dilihat pada pemakaian kata beef untuk mengidentifikasi daging sapi, alih-alih memakai kata cow. Padahal, untuk kelompok unggas serta komoditas perikanan, struktur bahasa Inggris tetap memakai nama dasar hewannya, contohnya chicken bagi ayam, fish bagi ikan, dan turkey bagi kalkun.

Lantas, apa yang melatarbelakapi beberapa macam daging konsumsi justru mempunyai nama yang berbeda dari sebutan binatang asalnya?

Mengacu pada laporan Teen Vogue, alasan utamanya ternyata bukan sekadar menyangkut ranah kuliner belaka, melainkan punya kaitan erat dengan peristiwa peperangan, sekat kelas sosial, serta dinamika perkembangan bahasa Inggris yang berlangsung selama ratusan tahun.

Akar sejarah dari istilah beef itu sendiri dapat ditarik kembali pada masa tahun 1066 silam, sewaktu bala tentara Norman yang dipimpin oleh William the Conqueror sukses menundukkan wilayah Inggris lewat pertempuran sengit di Hastings.

Pasca-kemenangan besar tersebut, struktur masyarakat di Inggris terbelah menjadi dua golongan utama. Kelompok bangsawan dan aristokrat memakai bahasa Prancis Norman dalam keseharian, sedangkan masyarakat jelata tetap berkomunikasi memakai bahasa Inggris Kuno atau Anglo-Saxon.

Adanya disparitas bahasa itu pada akhirnya ikut memengaruhi tata cara dalam menamai menu hidangan makanan. Para peternak lokal yang mengurusi hewan ternak kerap memakai istilah bahasa Inggris, semisal:

• cow (sapi)

• pig (babi)

• sheep (domba)

• calf (anak sapi)

Akan tetapi, sewaktu bermacam-macam hewan ternak tadi disajikan di atas meja makan para kelompok penguasa, istilah yang dipakai diadopsi dari kosakata bahasa Prancis, yaitu:

• beef dari kata Prancis boeuf

• pork dari porc

• mutton dari mouton

• veal dari veau

Dengan kata lain, masyarakat kelas bawah memberikan nama untuk hewan yang mereka urus di kandang, sedangkan kelompok borjuis memberikan penamaan bagi hidangan yang siap mereka santap.

Merujuk pada ulasan Food Culture Bites, seiring bergulirnya waktu, penggunaan bahasa Inggris dan bahasa Prancis akhirnya mulai membaur satu sama lain. Ribuan istilah kosakata Prancis secara bertahap diserap ke dalam tatanan bahasa Inggris, termasuk istilah yang berkaitan dengan dunia kuliner.

Dampaknya, istilah-istilah seperti beef, pork, dan mutton senantiasa awet digunakan hingga hari ini meskipun masyarakat modern kini sudah tidak lagi memisahkan penggunaan bahasa berdasarkan stratifikasi sosial.

Kendati demikian, para pakar linguistik berpendapat bahwa narasi 'peternak menyebut cow dan bangsawan menyebut beef' sebenarnya merupakan wujud penyederhanaan dari suatu proses evolusi bahasa yang jauh lebih rumit. Pergeseran bahasa tersebut terjadi secara gradual selama beberapa abad lewat persinggungan kultur yang panjang.

Namun, mengapa kata chicken tetap bertahan sebagai chicken?

Apabila imbas dari bahasa Prancis begitu masif, mengapa istilah untuk ayam tidak ikut bergeser ke dalam kosakata Prancis? Jawabannya terletak pada pola kebiasaan masyarakat di era tersebut.

Ayam termasuk jenis hewan ternak yang dipelihara oleh hampir seluruh golongan, baik masyarakat berpunya maupun rakyat jelata. Unggas ini diternakkan demi diambil telur sekaligus dagingnya, sehingga tidak melahirkan sekat pemisah yang kontras antara pihak yang mengembangbiakkan dengan pihak yang memakan.

Lantaran dimanfaatkan oleh segenap lapisan masyarakat tanpa terkecuali, terminologi chicken tetap kokoh bertahan di dalam bahasa Inggris.

Kasus serupa pun berlaku pada penamaan fish. Komoditas ikan sangat gampang diperoleh dari aliran sungai, danau, hingga lautan luas sehingga dinikmati oleh hampir semua kalangan masyarakat. Selain itu, ikan menjelma jadi komoditas pangan krusial selama periode puasa keagamaan di kawasan Eropa pada abad pertengahan. Faktor-faktor inilah yang membuat istilah fish tidak tergeser oleh kosakata Prancis.

Namun, dinamika yang kontras justru dialami oleh burung kalkun. Unggas besar ini baru mulai populer di daratan Eropa pasca-ekspedisi penjelajahan menuju Benua Amerika bergulir di abad ke-16, atau beberapa ratus tahun setelah peristiwa Penaklukan Norman selesai. Pada masa itu, dominasi bahasa Prancis terhadap istilah kuliner sudah tidak sekuat era sebelumnya.

Oleh karena alasan tersebut, tata bahasa Inggris tetap setia mengaplikasikan satu nama saja, yakni turkey.

Uniknya, penamaan tersebut sebetulnya muncul akibat adanya kekeliruan pemahaman geografis dari masyarakat masa lalu. Orang-orang Eropa kala itu mengira bahwa burung besar tersebut masuk via jalur logistik perdagangan yang terkoneksi dengan Kesultanan Ottoman atau area Turki, sehingga mereka spontan menjulukinya turkey.

Di belahan bumi lainnya, jenis burung yang identik ini justru dinamai dengan merujuk pada wilayah yang berbeda, layaknya India atau Peru. Sementara di negara Meksiko, kalkun lebih familier dengan sebutan yang berakar dari bahasa Nahuatl, yakni huehx?l?tl, yang di kemudian hari diserap ke dalam kosakata bahasa Spanyol menjadi guajolote.

Terkini