Idap Neurocysticercosis Puluhan Parasit Bersarang di Otak Wanita

Rabu, 08 Juli 2026 | 04:28:01 WIB
Ilustrasi Penyakit Neurocysticercosis.

JAKARTA — Seorang perempuan berkebangsaan Inggris melewati sebuah insiden medis yang amat mencengangkan. Setelah seekor cacing pita dengan ukuran panjang berkisar satu meter terlepas dari tubuhnya ketika sedang buang air besar, perempuan tersebut divonis mengidap penyakit neurocysticercosis, yakni sebuah infeksi pada organ otak yang dipicu oleh larva cacing pita babi (Taenia solium).

Perempuan berusia 43 tahun dengan nama Lowri Denman tersebut pada mulanya menyangka bahwa persoalan medis yang menderanya telah beres begitu cacing pita itu keluar dari tubuhnya.

Akan tetapi, sekitar setahun berselang, ia justru mulai didera rasa nyeri kepala yang teramat hebat disertai serangan kejang secara tiba-tiba, hingga mengharuskannya menempuh prosedur pemeriksaan CT scan serta MRI.

Berdasarkan data dari hasil pengecekan medis tersebut, didapati ada sebanyak 38 parasit yang telah hidup dan bersarang di dalam organ otaknya. Dokter spesialis penyakit menular yang mendampinginya memprediksi bahwa Lowri kemungkinan besar kemasukan telur cacing pita sewaktu berwisata ke India lewat asupan makanan atau minuman yang sudah tercemar.

Kondisi kesehatannya sempat merosot tajam dipicu oleh terjadinya pembengkakan pada jaringan otak di area sekitar parasit berada. Selain memicu kejang dan pusing hebat, Lowri ikut mendapati gangguan pada kesehatan jiwanya yang berwujud kecemasan akut, paranoid, psikosis, sampai terjadinya pergeseran perangai layaknya seorang bocah kecil.

Lantas, lewat jalur mana cacing pita tersebut dapat melakukan migrasi menuju otak manusia?

Melansir penjelasan resmi dari World Health Organization (WHO), penyakit neurocysticercosis sejatinya tidak muncul akibat tindakan seseorang mengonsumsi daging babi yang membawa larva cacing pita.

Kasus infeksi ini justru bertunas sewaktu seseorang tanpa sengaja menelan butiran telur cacing pita Taenia solium via hidangan makanan, air minum, ataupun kondisi tangan yang telah terpapar oleh feses manusia yang mengandung telur cacing.

Begitu masuk menuju sistem pencernaan, telur-telur tersebut akan menetas di dalam usus. Larva cacing berikutnya akan menembus bagian dinding usus, membaur ke dalam sistem aliran darah, dan menyebar menuju bermacam-macam organ tubuh, termasuk ke dalam otak.

Ketika berada di dalam otak, larva ini membentuk kista yang sanggup bertahan hidup hingga bertahun-tahun tanpa memunculkan keluhan. Problem kesehatan umumnya baru mencuat sewaktu kista tersebut mulai mati atau memicu gejala peradangan, sehingga memantik respons pertahanan dari sistem kekebalan tubuh manusia.

Mengapa gangguan ini sanggup memicu serangan kejang sampai berujung pada kondisi psikosis?

Kemunculan gejala dari infeksi neurocysticercosis sangat bergantung pada kuantitas kista, dimensi ukuran, titik lokasi di otak, serta bagaimana sensitivitas respons imun dari masing-masing individu.

Mengutip laporan ilmiah dari The Lancet Neurology, komplikasi kesehatan ini menjelma sebagai salah satu faktor pemicu paling jamak dari kasus epilepsi yang didapat (acquired epilepsy) di berbagai belahan negara berkembang.

Keluhan yang paling intens dirasakan oleh pasien mencakup kejang-kejang, nyeri kepala tak tertahankan, peningkatan volume tekanan di dalam batok kepala, gangguan pada indra penglihatan, hingga merosotnya fungsi keseimbangan tubuh.

Pada sejumlah kasus pasien, terutamanya jika dibarengi dengan kasus pembengkakan otak atau posisi kista menduduki area spesifik, dapat memunculkan depresi kejiwaan seperti disorientasi kepribadian, rasa cemas, depresi, halusinasi, sampai serangan psikosis.

Berdasarkan pandangan para peneliti, distorsi tersebut timbul akibat perpaduan dari adanya proses inflamasi pada jaringan otak, lonjakan tekanan di dalam kepala, serta terhambatnya fungsi kerja dari area otak yang terinfeksi oleh kista.

Pihak WHO menegaskan bahwa infeksi neurocysticercosis pada dasarnya sangat bisa diantisipasi dengan cara memelihara higienitas makanan dan minuman, membasuh tangan memakai sabun sebelum makan serta seusai keluar dari kamar mandi, sekaligus menjamin sanitasi lingkungan sekitar tetap terjaga bersih.

Di samping itu, olahan daging juga wajib dimasak sampai benar-benar matang sempurna demi memutus rantai infeksi cacing pita. Kendati demikian, perlu digarisbawahi bahwa penyakit neurocysticercosis ini sejatinya lebih dominan dipicu oleh tidak sengajanya menelan telur cacing yang bersumber dari area lingkungan yang kotor, bukan semata karena memakan hidangan daging babi yang diolah kurang matang.

Oleh karena itu, faktor kebersihan diri dan jaminan keamanan pangan menjadi sebuah instruksi krusial demi mereduksi ancaman penyakit yang pada tingkatan ekstrem mampu menyulut gangguan sistem saraf pusat hingga memicu anomali perubahan perilaku layaknya yang menimpa Lowri.

Terkini