Saham PRDL Sentuh Rekor Oversubscribed 709 Kali saat Melantai di BEI

Kamis, 09 Juli 2026 | 04:42:01 WIB
Ilustrasi Saham.

JAKARTA - Instruksi langsung dari figur pendiri Prodia Group, Andi Wijaya, memaksa jajaran manajemen PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) atau Proline untuk memacu penyelesaian seluruh tahapan persiapan go public dalam durasi waktu 6 bulan saja.

Direktur Utama Prodia Diagnostic Line Cristina Sandjaja membeberkan bahwa proses penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham PRDL bergulir secara mendadak pasca dirinya menerima mandat khusus di awal periode tahun ini.

“Pak Andi baru memberikan arahan ke saya pada 16 Januari 2026. Beliau meminta perusahaan untuk IPO tahun ini. Saya sempat menawar agar ditunda tahun depan, tetapi beliau menegaskan harus tahun ini selagi beliau masih ada," ujar Cristina saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Kamis (9/7/2026).

Usai memperoleh instruksi ketat tersebut, Cristina segera bergerak taktis guna melakukan koordinasi intensif bersama seluruh jajaran tim internal perusahaan.

Hanya berselang rentang waktu dua minggu pasca perintah diturunkan, perseroan langsung menetapkan pihak underwriter serta menggelar agenda rapat perdana bersama profesi penunjang pasar modal pada 25 Januari 2026.

Akselerasi performa kerja yang agresif tersebut membuahkan hasil berupa rampungnya draf prospektus penawaran perdana dalam kurun waktu dua bulan saja.

Pihak manajemen mengakui seluruh elemen tim dipaksa memotong waktu istirahat dan memeras keringat tanpa henti demi mengejar tenggat legalitas serta kelengkapan dokumen finansial.

“Perjalanan Proline dalam mempersiapkan IPO ini selama 6 bulan sangat luar biasa. Kami bekerja tanpa henti, siang dan malam, bahkan sering kali hingga subuh. Hari Sabtu dan Minggu tidak pernah terlewat untuk koordinasi,” kenang Cristina.

Skenario perjuangan untuk meluncurkan emiten PRDL ke lantai bursa perdana dirasakan kian menantang lantaran iklim pasar modal di sepanjang paruh pertama 2026 didera volatilitas tinggi.

Di luar indikator makroekonomi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama otoritas bursa pun menerapkan sistem penyaringan yang jauh lebih ketat bagi korporasi calon emiten baru.

Perseroan juga dihadapkan pada dinamika pemenuhan instrumen regulasi, termasuk penyesuaian draf aturan porsi batas minimal kepemilikan saham publik (free float) yang mencuat imbas evaluasi indeks global MSCI.

Kendati demikian, rentetan hambatan operasional tersebut berhasil dicarikan jalan keluar secara mumpuni hingga perseroan sukses mengantongi lembar pernyataan efektif dari regulator.

Segala bentuk pengorbanan serta kerja keras tim akhirnya terbayar lunas oleh respons positif dari pasar modal.

Meski atmosfer perdagangan sedang bergejolak, instrumen saham PRDL justru menorehkan rekor dengan kelebihan total pemesanan (oversubscribed) mencapai 709 kali pada porsi penjatahan terpusat.

Manajemen memberikan catatan tebal bahwa tingginya animo pesanan dari kelompok investor ritel lokal ini menjadi salah satu yang paling fantastis dalam sejarah aksi IPO di tanah air.

Cristina memastikan, capaian gemilang ini menjadi bukti valid bahwa iklim pasar saham Indonesia tetap kompetitif serta mendambakan kehadiran produk investasi baru.

Khususnya pada entitas korporasi yang terbukti menyajikan fundamental usaha yang tangguh serta konsistensi implementasi transparansi tata kelola (good corporate governance/GCG) dalam kurun 3 tahun terakhir.

"Oleh karena itu, seleksi ketat dari regulator sebenarnya membuat investor di Indonesia bisa lebih lega karena perusahaan yang berhasil lolos IPO dipastikan sudah tersaring dengan sangat baik," pungkasnya.

Terkini