Faktor Penyebab Perut Buncit pada Pria dan Risiko Kesehatan

Kamis, 09 Juli 2026 | 05:15:01 WIB
Ilustrasi Perut Pria Buncit.

JAKARTA - Sebuah anggapan yang sudah sangat populer berkembang di tengah masyarakat bahwa seiring bertambahnya usia seseorang, peluang pria mengalami perut buncit akan makin besar.

Bahkan tidak jarang dijumpai pria yang memiliki postur lengan dan kaki yang normal, namun bagian lingkar perutnya tampak menonjol ke depan.

Fenomena fisik tersebut selama ini sering kali hanya dicap sebagai akibat dari pola makan yang berlebih atau karena malas melakukan olahraga.

Namun secara biologis, terdapat alasan mendalam mengapa area perut pria paruh baya menjadi lokasi yang paling mudah mengalami pembengkakan lemak.

Basarkan tinjauan riset National Institutes of Health (NIH), anatomi tubuh pria dirancang lebih mudah menyimpan cadangan lemak di perut dalam bentuk lemak visceral.

Jenis lemak visceral ini mendekam di bagian dalam dan mengelilingi organ vital seperti hati, pankreas, hingga saluran usus.

Karakteristik lemak terdalam ini jauh lebih aktif secara metabolik jika dibandingkan dengan lemak subcutaneous yang berada tepat di bawah jaringan kulit.

Oleh karena itu, pria cenderung memiliki kecenderungan bentuk tubuh menyerupai buah apel, yakni ekstremitas cenderung ramping tetapi perut condong maju.

Kondisi ini berkebalikan dengan wanita pra-menopause yang umumnya menimbun sisa lemak di bawah kulit pada area sekitar pinggul serta paha.

Ketika memasuki fase paruh baya, metabolisme tubuh pria akan mengalami transisi berupa penyusutan massa otot disertai penurunan hormon testosteron.

Rendahnya tingkat hormon testosteron tersebut memiliki korelasi erat dengan peningkatan akumulasi volume lemak visceral di dalam perut.

Di sisi lain, tumpukan lemak visceral yang makin tebal juga dapat menekan produksi testosteron sehingga lingkar pinggang bertambah lebar secara berkala.

Faktor gaya hidup modern yang serba instan turut andil dalam memperparah kondisi fisik pria masa kini.

Banyak pria menghabiskan durasi harian mereka dengan posisi duduk diam di depan komputer, menyetir kendaraan, atau bekerja tanpa mobilitas fisik berarti.

Sebuah studi dari BMC Public Health menegaskan bahwa jenis pekerjaan sedentari memiliki keterkaitan kuat dengan naiknya risiko obesitas abdominal.

Kendati hormon dan distribusi lemak genetik ikut berpengaruh, muara utama pemicu perut membuncit tetaplah bertumpu pada surplus kalori harian.

Kondisi ini tercipta ketika asupan energi dari makanan jauh lebih besar daripada kalori yang mampu dibakar melalui aktivitas olahraga.

Kebiasaan mengonsumsi camilan manis, gorengan, porsi makan malam yang jumbo, hingga kebiasaan minum alkohol menjadi pemicu utama kelebihan kalori tersebut.

Alkohol sendiri menyimpan kadar kalori yang tinggi serta memiliki kemampuan merusak sistem metabolisme pemecahan lemak di dalam tubuh.

Persoalan perut membuncit ini pada dasarnya bukan hanya sekadar mengganggu estetika penampilan luar, melainkan menyimpan ancaman kesehatan serius.

Tumpukan lemak visceral yang mengitari organ dalam aktif memproduksi senyawa berbahaya yang dapat memicu aneka gangguan metabolisme tubuh.

Riset lokal dalam jurnal PLOS ONE mengungkap bahwa obesitas abdominal memiliki hubungan yang jauh lebih erat pada risiko penyakit kardiovaskular.

Artinya, seseorang bisa saja terlihat tidak terlalu gemuk secara umum, tetapi memiliki risiko kematian dini yang tinggi akibat lingkar perut yang lebar.

Terkini