Wamendag Tegaskan RI Pilih Kolaborasi di Tengah Fragmentasi Global

Selasa, 14 Juli 2026 | 17:25:31 WIB
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag), Dyah Roro Esti Widya Putri. [Foto: Istimewa]

JAKARTA - Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri menyatakan Indonesia memegang komitmen untuk menjadikan sektor perdagangan sebagai alat perdamaian dan kemakmuran saat tensi fragmentasi geopolitik, proteksionisme, serta perlambatan ekonomi dunia terus meningkat.

"Perdagangan harus menjadi jembatan yang mempererat kerja sama antarbangsa, bukan menjadi arena konfrontasi," ujar Wamendag menegaskan, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Berdasarkan penjelasan Wamendag, Indonesia mengambil jalur kolaborasi, diplomasi ekonomi yang inklusif, serta penguatan sistem perdagangan multilateral demi meletakkan fondasi stabilitas ekonomi global.

Ia menyebutkan bahwa lanskap dunia saat ini sedang melewati transformasi yang masif.

Perdagangan tidak lagi sekadar dinilai sebagai instrumen ekonomi semata, tetapi telah berkelindan erat dengan keamanan nasional, penguasaan teknologi, arah kebijakan industri, hingga konstelasi pengaruh geopolitik.

"Kondisi ini mendorong meningkatnya penggunaan tarif, pembatasan ekspor, sanksi ekonomi, dan berbagai instrumen perdagangan strategis yang berdampak terhadap rantai pasok global," katanya saat menjadi pembicara "The 10th Jakarta Geopolitical Forum 2026", yang diselenggarakan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas).

Di tengah gejolak situasi tersebut, Wamendag memastikan bahwa Indonesia lebih memilih memperkukuh ketahanan ekonomi lewat keterbukaan, alih-alih mengisolasi diri dari arus perdagangan internasional.

Menurut dia, peta jalan strategi Indonesia menitikberatkan pada diversifikasi pasar ekspor, perluasan kemitraan dagang, penguatan daya saing industri domestik, hilirisasi, transformasi digital, serta pembentukan rantai pasok yang jauh lebih tangguh.

"Ketahanan bukan berarti isolasi. Ketahanan adalah kemampuan untuk tetap terbuka, adaptif, dan menjadi mitra perdagangan yang terpercaya," ujarnya pula.

Lebih jauh lagi, Wamendag menekankan bahwa Indonesia konsisten menyokong sistem perdagangan multilateral yang berpatokan pada aturan (rules-based multilateral trading system).

Indonesia mengawal penuh reformasi World Trade Organization (WTO), yang meliputi pemulihan sistem penyelesaian sengketa, pembaruan regulasi niaga digital, hingga penguatan perlakuan khusus bagi negara-negara berkembang.

Indonesia pun mendorong adanya reformasi tata kelola ekonomi global di tubuh International Monetary Fund (IMF) dan World Bank, dengan tujuan agar peran negara berkembang yang kian tumbuh dapat lebih terefleksikan dalam perekonomian dunia.

Di dalam forum tersebut, Wamendag menguraikan bahwa Indonesia memanfaat momentum transformasi ekonomi global ini sebagai peluang mempertegas posisinya sebagai kekuatan penengah (middle power) yang andal merajut jembatan kerja sama lintas kawasan.

Indonesia terus melebarkan jangkauan diplomasi ekonominya melalui wadah ASEAN, G20, APEC, BRICS, OECD, dan WTO, sembari memperkuat jejaring kesepakatan dagang internasional.

Hingga kini, Indonesia telah mengantongi sekitar 20 perjanjian perdagangan yang memayungi lebih dari 60 persen total perdagangan nasional, sehingga instrumen ini menjadi krusial dalam memperluas akses pasar, mengatrol daya saing ekspor, serta mengunci ketahanan ekonomi nasional.

Di samping itu, Wamendag menggarisbawahi bahwa hambatan perdagangan global tidak dapat diselesaikan oleh pihak otoritas pemerintah sendirian.

Indonesia menggalang pendekatan pentaheliks, yang mempererat kerja sama sinergis antara unsur birokrasi, dunia usaha, kalangan akademisi, masyarakat sipil, hingga media massa dalam menyusun sekaligus menggerakkan diplomasi ekonomi nasional.

Pada momentum yang sama, Wamendag turut memaparkan kisah sukses Indonesia dalam melewati aneka tantangan perdagangan internasional lewat jalur dialog dan diplomasi yang konstruktif.

Satu di antara pencapaian krusialnya adalah kesuksesan mengamankan pengecualian bagi 18 kategori produk ekspor asal Indonesia dari pengenaan tarif tambahan dalam proses investigasi Section 301 Amerika Serikat.

"Dialog yang konstruktif, didukung data yang kuat dan pendekatan yang pragmatis, terbukti menghasilkan solusi yang lebih efektif dibandingkan konfrontasi," ujar Wamendag.

Roro Esti pun menggarisbawahi rasa saling percaya bakal menjadi fondasi paling utama dalam ekosistem perdagangan global di masa depan.

"Indonesia akan terus memainkan peran sebagai bridge builder di tengah dunia yang semakin terfragmentasi. Melalui perdagangan yang terbuka, inklusif, dan berbasis aturan, Indonesia ingin memperkuat kerja sama, membangun kepercayaan, serta menghadirkan manfaat nyata bagi kesejahteraan bersama," kata Wamendag.

Terkini