Houthi Klaim Arab Saudi Luncurkan 26 Serangan dalam 24 Jam di Yaman

Sabtu, 19 September 2026 | 06:44:00 WIB

VISIENERGI.COM — Houthi di Yaman menuduh Arab Saudi melancarkan 26 serangan udara ke wilayah yang mereka kuasai dalam 24 jam terakhir. Klaim itu muncul saat kedua pihak terus saling melancarkan serangan di tengah eskalasi perang Yaman yang makin luas, termasuk perebutan kawasan pesisir Laut Merah.

Kelompok Houthi mengatakan serangan Arab Saudi ke wilayah kekuasaan mereka mencapai 300 kali sepanjang pekan lalu. Data itu disampaikan Houthi berdasarkan laporan kantor berita AFP.

Sementara itu, pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi mengklaim pasukannya menewaskan 30 pejuang Houthi dan melukai lebih dari 60 orang dalam bentrokan di Distrik al-Wazi'iyah, Provinsi Taiz. Taiz menjadi salah satu dari sejumlah front yang kembali memanas pekan ini.

Bentrokan Meluas ke Beberapa Front

Pertempuran antara militer pemerintah Yaman dan Houthi meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir. Serangan balasan kedua pihak dilaporkan menewaskan sedikitnya lima orang, termasuk tiga anak, menurut keterangan dari masing-masing kubu.

Arab Saudi menyatakan satu orang tewas di Kegubernuran Taif setelah drone Houthi dicegat. Media yang berafiliasi dengan Houthi melaporkan adanya korban jiwa akibat serangan Saudi di Taiz dan Kota Abs.

Demonstrasi Massa di Sanaa

Puluhan ribu orang berbaris di Sanaa untuk mendukung Houthi yang didukung Iran dan menentang Arab Saudi. Aksi itu digelar saat Houthi terus memperluas penguasaan mereka atas wilayah pesisir Laut Merah, termasuk Selat Bab al-Mandeb yang strategis.

Penguasaan Houthi atas jalur pelayaran tersebut memicu kekhawatiran internasional. Bab al-Mandeb merupakan koridor vital bagi perdagangan global yang menghubungkan Asia dan Eropa melalui Terusan Suez.

Washington Pilih Menahan Diri

Pejabat Amerika Serikat bertemu perwakilan Houthi di Kedutaan Besar AS di Muscat, Oman, akhir pekan lalu. Pertemuan itu digelar setelah kemajuan teritorial Houthi yang cepat menimbulkan kekhawatiran atas pelayaran di Bab al-Mandeb.

Houthi dilaporkan menjamin Washington bahwa kapal-kapal yang tidak terkait Arab Saudi tidak akan menjadi sasaran. Meski Riyadh mendesak Presiden AS Donald Trump untuk menyerang Houthi secara langsung, Washington sejauh ini menahan diri.

Sikap itu diambil karena AS khawatir membuka front baru saat masih berperang melawan Iran yang menelan biaya besar.

Uni Eropa Tingkatkan Kewaspadaan

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas mengatakan misi angkatan laut blok itu di Laut Merah, Operation Aspides, telah menaikkan tingkat kewaspadaan. Peningkatan status itu dilakukan seiring memburuknya situasi di kawasan.

"Serangan Houthi terhadap Arab Saudi tidak dapat diterima dan merusak perekonomian global," kata Kallas dalam unggahan di X.

Kallas menambahkan ia telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud mengenai upaya diplomatik untuk mengakhiri pertempuran di Yaman. Pembicaraan itu juga membahas pemulihan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Perang Yaman Belum Menunjukkan Titik Terang

Konflik Yaman yang telah berlangsung bertahun-tahun kembali memasuki fase intensifikasi. Houthi terus mendorong perluasan wilayah, sementara koalisi pimpinan Arab Saudi berupaya menahan laju mereka di darat.

Dampak paling langsung terasa pada jalur pelayaran internasional. Kapal-kapal dagang yang melintasi Laut Merah dan Bab al-Mandeb menghadapi risiko meningkat, memaksa sejumlah operator mempertimbangkan rute alternatif yang lebih panjang dan mahal.

Belum ada tanda gencatan senjata dalam waktu dekat. Upaya mediasi yang melibatkan Oman, Uni Eropa, dan PBB masih berjalan tanpa hasil konkret.

Terkini