AHY

AHY Tegaskan Pentingnya Air Bersih untuk Ekspansi Data Center Indonesia 2026

AHY Tegaskan Pentingnya Air Bersih untuk Ekspansi Data Center Indonesia 2026
AHY Tegaskan Pentingnya Air Bersih untuk Ekspansi Data Center Indonesia 2026

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, menekankan pentingnya menjaga ketersediaan air seiring dengan pengembangan data center di Indonesia. Ia menyoroti bahwa ekspansi industri digital yang cepat akan meningkatkan tekanan terhadap pasokan air.

Menurut Agus Harimurti Yudhoyono yang akrab disapa AHY, air menjadi komponen vital dalam sistem pendingin data center. Hal ini membuat perencanaan pemanfaatan air harus dilakukan dengan cermat agar tidak mengganggu keberlanjutan sumber daya nasional.

Air sebagai komponen penting dalam ekspansi data center

"Sedangkan kita ingin membangun data center ini di seluruh Indonesia, bahkan Indonesia menjadi hub dari data center di kawasan Asia Tenggara. Kita butuh air termasuk juga untuk industrial boilers. Jadi ini juga harus dihitung dengan cermat," ujar AHY dalam Water Town Hall Meeting di Jakarta, Selasa, 24 Februari 2026.

Dalam pertemuan yang sama, Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Isu Air, Retno Marsudi, menyatakan bahwa pengelolaan air tidak bisa lagi dilakukan secara sektoral. Ia menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor untuk menjaga ketersediaan air yang berkelanjutan.

Kolaborasi lintas sektor untuk pengelolaan air

Retno Marsudi menambahkan bahwa sektor digital, khususnya data center, termasuk yang paling intensif menggunakan air. Oleh karena itu, pemangku kepentingan dari pertanian, kesehatan, energi, hingga industri digital harus bekerja sama dalam perencanaan dan pengelolaan air.

Berdasarkan data, setiap 1 megawatt (MW) beban teknologi informasi membutuhkan sistem pendingin berbasis evaporative cooling atau cooling tower yang mengonsumsi 1,5 hingga 3 juta liter air per bulan. Angka ini menunjukkan bahwa kebutuhan air di sektor digital sangat signifikan dan harus diimbangi dengan strategi nasional.

Tantangan global terkait akses air bersih

Meski pengembangan data center penting bagi ekonomi digital Indonesia, AHY mengingatkan tantangan besar lainnya adalah masalah akses air bersih global. "Bicara tantangan yang lebih besar lagi, Ibu Bapak bisa membayangkan bahwa saat ini masih ada 2,2 miliar orang yang tidak memiliki akses terhadap air minum yang aman. 3,5 miliar orang yang tidak memiliki akses terhadap sanitasi yang aman. Jadi dari sisi jumlah, it's very big, dan ini harus ditangani," katanya.

Banyaknya jumlah orang yang masih kekurangan akses air bersih menegaskan bahwa krisis air bersifat global. Retno menekankan bahwa pendekatan parsial atau berdiri sendiri tidak akan cukup menyelesaikan masalah ini.

Investasi sebagai kunci keberlanjutan air

Investasi di sektor air menjadi elemen krusial untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Retno menyebut bahwa kebutuhan pendanaan global untuk sektor air dan sanitasi diperkirakan mencapai sekitar 600 miliar dolar AS per tahun.

Sementara itu, kesenjangan pendanaan untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) tujuan keenam masih berkisar antara 131 hingga 140 miliar dolar AS per tahun. Ia menekankan pentingnya alokasi dana yang strategis agar target ketersediaan air bersih dan sanitasi dapat tercapai secara merata.

Manfaat ekonomi dari investasi air

Mengutip kajian Bank Dunia, Retno menyebut setiap 1 dolar AS investasi di sektor air dapat menghasilkan pengembalian ekonomi sekitar 6,8 dolar AS. Keuntungan ini bisa diperoleh melalui peningkatan produktivitas, pengurangan biaya kesehatan, dan stabilitas sosial yang lebih baik.

Analisis World Resources Institute (WRI) memperkirakan bahwa penyediaan akses air bagi seluruh populasi dunia membutuhkan sekitar 1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) global. Angka ini setara dengan 0,29 dolar AS per orang per hari, yang menunjukkan bahwa investasi di sektor air memiliki dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.

Air sebagai penghubung lintas sektor

Retno menegaskan bahwa air berperan sebagai penghubung sektor pertanian, energi, kesehatan, dan industri. Sektor pertanian sendiri menyerap sekitar 72 persen penggunaan air tawar global, sehingga pengelolaan air berdampak langsung terhadap ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi.

"Air adalah enabler bagi banyak sektor. Karena itu, pendekatan pembiayaan sektor air juga harus lintas sektor dan kolaboratif," ujar Retno. Ia menekankan bahwa strategi pembangunan digital Indonesia harus selalu mempertimbangkan keterkaitan air dengan berbagai sektor lainnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index