Mengapa Ingatan Saat Bertengkar dengan Pasangan Bisa Berbeda

Mengapa Ingatan Saat Bertengkar dengan Pasangan Bisa Berbeda
Ilustrasi pasangan.

JAKARTA - Banyak orang mengira ingatan disimpan di dalam kepala layaknya sebuah film yang bisa diputar ulang kapan saja. Namun, cara kerja otak tidaklah sesederhana itu.

"Ingatan kami bukanlah perekam video. Kami merekonstruksi ingatan setiap saat dari segala jenis fragmen informasi yang tersedia pada saat itu," jelas psikiater Boris van Passel, melansir Cosmopolitan, Rabu (1/7/2026).

Perbedaan memori antara Anda dan pasangan bukan berarti ada yang sengaja memutarbalikkan fakta atau melakukan manipulasi psikologis. Hal ini wajar terjadi karena dua orang bisa mengalami peristiwa yang sama, tetapi menyimpannya dengan cara yang jauh berbeda.

Sebagai contoh, saat bertengkar di perjalanan liburan, satu pihak mungkin lebih mengingat suasana jalan yang menegangkan, sedangkan pihak lain hanya ingat pada kritik soal pemilihan rute. Kedua ingatan ini bisa sama-sama benar, meski saling bertolak belakang satu sama lain.

Menurut Van Passel, ada tiga faktor utama yang memengaruhi hal tersebut. Faktor pertama yang sangat memengaruhi adalah suasana hati saat Anda mencoba mengingat kembali kejadian tersebut.

Perasaan saat itu akan menentukan detail mana yang berhasil ditarik ke permukaan memori.

"Jika kamu marah kepada pasanganmu, kamu akan mengemukakan detail yang berbeda dibandingkan saat kamu penasaran atau sedang berlapang dada. Tujuan pencarian di otak kami sebagian menentukan hasilnya," terang Van Passel.

Lebih lanjut, otak cenderung membagi peristiwa ke dalam bab-bab yang berbeda. Setiap orang memiliki fokus yang berlainan terhadap bab mana yang diperhatikan.

Orang dengan gejala kecemasan biasanya akan berfokus kuat pada saat-saat ketika keadaan terasa memburuk. Sementara itu, puluhan momen lain saat semuanya berjalan lancar dan aman justru sering menghilang dari pandangan dengan sangat cepat.

Emosi yang intens dapat membuat detail tertentu terasa sangat tajam, sedangkan detail lain menghilang begitu saja. Van Passel mencontohkan seseorang yang yakin pasangannya selalu menatap jendela saat mengobrol, padahal sang pasangan sama sekali tidak merasa melakukannya.

Sang pasangan mungkin hanya melihat ke luar sesekali tanpa emosi tertentu, tetapi bagi orang yang takut dianggap membosankan, hal itu terasa seolah menjadi konfirmasi atas ketakutannya.

"Itu tidak berarti ingatannya tidak benar. Ini bukan soal berbohong atau keengganan untuk mengakui hal lain. Emosi hanya mewarnai apa saja yang kami perhatikan dan ingat," ucap dia.

Konteks lingkungan juga sangat memengaruhi cara kerja memori. Di mana Anda berada, dengan siapa Anda berinteraksi, hingga aroma dan suara di sekitar, dapat menjadi pemicu ingatan tertentu.

Inilah mengapa seseorang terkadang tiba-tiba dibanjiri oleh kenangan masa lalu begitu mereka kembali ke suatu tempat spesifik. Lingkungan pada dasarnya berfungsi mengaktifkan kembali potongan cerita yang sempat tersimpan.

Dalam sebuah jalinan hubungan, semua faktor di atas saling bertaut dan menciptakan apa yang disebut Van Passel sebagai kebenaran paralel. Anda dan pasangan memperhatikan hal yang berbeda, merespons dengan emosi yang berlainan, lalu mengingat kejadian tersebut dari sudut pandang masing-masing.

Ketika terjadi perbedaan versi cerita, mempertanyakan siapa yang paling benar bukan hal yang tepat.

"Jauh lebih berguna ketika orang penasaran tentang bagaimana orang lain sampai pada ingatan, emosi, dan kesimpulannya," ungkap Van Passel.

Pelajaran terpentingnya adalah menyadari bahwa otak lebih berfokus pada pemberian makna daripada fakta objektif semata. Kenangan tidak tercipta secara kaku layaknya data komputer.

"Ingatan bukanlah sistem kebenaran melainkan sistem makna," kata Van Passel.

"Ia tidak merekam realitas seperti cara kamera melakukannya, tetapi mengubahnya menjadi cerita yang sesuai dengan apa yang kami rasakan, pikirkan, dan anggap penting. Itulah yang membuat kami manusia, tetapi terkadang juga rentan terhadap kesalahpahaman," lanjut dia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index