Influenza A pada Anak dan Risiko Penitipan di Day Care

Influenza A pada Anak dan Risiko Penitipan di Day Care

VISIENERGI.COM — Kasus Influenza A pada anak kembali jadi perhatian sejumlah dokter anak di Indonesia. Data menunjukkan 5 persen kasus pada anak butuh rawat inap, dan 80 persen di antaranya balita di bawah dua tahun. Day care dengan ruangan tertutup dan ber-AC disebut memperbesar peluang penularan.

Profesor Anggraini Alam, dokter spesialis anak konsultan infeksi tropis, memaparkan data terkini soal Influenza A pada anak dalam media briefing Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Angka kejadian influenza memang lebih tinggi pada kelompok anak dibandingkan orang dewasa. Anak berisiko dua kali lipat mengalami flu dengan gejala berat.

Dari data yang dipaparkan, 5 persen kasus Influenza A pada anak berujung rawat inap. Yang perlu dicermati, 80 persen dari pasien rawat inap itu adalah balita berusia kurang dari dua tahun.

Mengapa Balita Paling Rentan

Daya tahan tubuh anak belum terbentuk sepenuhnya, terutama di usia balita. Faktor tinggi badan juga ikut berperan. "Tinggi anak, kan, di bawah orang dewasa. Kita bicara, kita bersih, kita batuk, maka mereka jadi mudah tertular," ujar Anggraini.

Artinya, saat orang dewasa batuk atau bersin di sekitar anak, droplet virus lebih mudah mengenai wajah dan saluran napas si kecil. Ini yang membuat balita lebih cepat tertular dibanding orang dewasa di ruangan yang sama.

Day Care Jadi Titik Rawan Penularan

Anggraini menyoroti kebiasaan menitipkan anak di day care sebagai salah satu faktor risiko. "Orang tua sekarang sibuk, menitipkan anak ke day care. Ruangannya tertutup, ramai," katanya.

Ruangan tertutup dan padat membuat virus terus berputar di area yang sama. Kalau satu anak terinfeksi, anak lain di ruangan itu berpeluang besar ikut tertular.

Penggunaan AC memperkuat risiko tersebut. Udara yang disirkulasi ulang di ruang ber-ventilasi tertutup membuat virus bertahan lebih lama dan mudah menulari siapa pun di dalamnya.

Bukan Sekadar Flu Biasa

Anggraini mengingatkan agar Influenza A tidak dianggap sepele. "Flu lebih berat dari common cold. Begitu dia masuk, dia akan mengikuti RNA genetik kita, sehingga dia memperbanyak dirinya di dalam tubuh sampai sel kita rusak," jelasnya.

Saat jumlah virus bertambah, infeksi menyasar jaringan pernapasan dan memicu peradangan. Proses pemulihannya bisa memakan waktu berminggu-minggu.

Gejala yang Perlu Diwaspadai Orang Tua

Demam, sakit kepala, dan nyeri persendian jadi gejala utama Influenza A pada anak. Orang tua juga perlu memantau batuk kering, hidung tersumbat, bersin, hidung meler, serta mual dan muntah.

Karena anak belum selalu bisa mengungkapkan keluhan, orang tua diminta jeli melihat perubahan aktivitas dan kebiasaan hariannya. "Walaupun anak belum bisa bicara menyampaikan keluhan, orang tua bisa melihat aktivitas dan kebiasaan anak," ujar Anggraini.

Segera bawa anak ke rumah sakit jika ia sulit terbangun, menolak makan, atau mengalami kejang. Tanda-tanda itu bukan gejala ringan yang bisa ditangani sendiri di rumah.

Yang Bisa Dilakukan di Rumah dan Day Care

Untuk mengurangi risiko di day care, pengelola dan orang tua bisa mulai membenahi sirkulasi udara ruangan. Membuka ventilasi atau memberi jeda udara segar membantu menekan jumlah virus yang bertahan di ruang ber-AC.

Orang tua juga sebaiknya tidak mengirim anak ke day care saat ia sedang batuk, demam, atau pilek. Satu anak yang tetap masuk dalam kondisi sakit berpotensi menularkan ke seluruh ruangan.

Mengenali gejala sejak awal tetap jadi langkah paling praktis. Semakin cepat anak diperiksa, semakin kecil kemungkinan infeksi berkembang ke tahap yang butuh rawat inap.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index