JAKARTA - Pembahasan mengenai olahraga sering dianggap universal untuk semua orang, namun sebuah studi baru menunjukkan fakta yang berbeda antara pria dan wanita. Penelitian tersebut mengungkap bahwa pria justru perlu berolahraga dua kali lebih banyak agar memperoleh manfaat kesehatan yang sama seperti wanita.
Penemuan ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana tubuh pria dan wanita merespons aktivitas fisik. Temuan tersebut juga membuka diskusi lebih luas tentang pentingnya memahami kebutuhan olahraga yang lebih personal.
Dalam hasil studinya, para peneliti menyoroti bahwa perbedaan biologis tampaknya sangat berpengaruh terhadap kemampuan tubuh merespons latihan. Hal ini membuat perempuan memiliki keunggulan tertentu dalam hal kesehatan jantung meskipun dengan waktu olahraga yang lebih sedikit.
Wanita Mendapat Manfaat Lebih Cepat dari Aktivitas Fisik
Sebuah studi yang dipublikasikan pada November 2025 menjelaskan bahwa wanita cukup berolahraga sekitar empat jam per minggu untuk menurunkan risiko penyakit jantung koroner hingga 30 persen. Angka ini menunjukkan bahwa tubuh perempuan merespons olahraga dengan efisiensi yang lebih tinggi.
Di sisi lain, pria baru bisa merasakan manfaat serupa setelah mencapai sekitar 530 menit latihan mingguan. Jumlah tersebut setara dengan hampir sembilan jam aktivitas fisik yang dilakukan secara konsisten.
Para peneliti menegaskan bahwa perbedaan ini bukan hanya sekadar variasi kecil tetapi mencerminkan karakteristik biologis yang berbeda antara dua jenis kelamin. Fakta tersebut dinilai penting untuk dipahami ketika menyusun program olahraga yang sesuai kebutuhan.
Penyakit jantung koroner sendiri merupakan kondisi di mana pembuluh darah jantung mengalami penyempitan atau pengapuran. Kondisi tersebut menyebabkan suplai darah ke jantung berkurang dan memicu berbagai gangguan kesehatan serius.
Faktor risiko penyakit jantung meliputi pola makan tidak sehat, kebiasaan merokok, serta kurangnya aktivitas fisik. Karena itu, olahraga tetap menjadi salah satu solusi utama dalam mencegah kondisi ini.
Hasil Penelitian yang Menimbulkan Kejutan Publik
Temuan dalam penelitian ini turut mengejutkan beberapa pihak, termasuk tokoh publik di bidang kesehatan. Salah satu yang menanggapi adalah Karl Lauterbach, mantan menteri kesehatan Jerman, yang menilai perbedaan manfaat ini terasa tidak adil.
Ia menyampaikan pandangannya melalui platform media sosial, menunjukkan betapa besar perhatian publik terhadap hasil studi tersebut. Reaksi ini menunjukkan bahwa topik kesehatan jantung selalu menjadi perhatian penting masyarakat.
Hasil penelitian tersebut juga memperlihatkan bahwa olahraga memberikan manfaat bahkan pada tingkat yang rendah. Wanita yang berolahraga sedang hingga berat selama sekitar 2,5 jam per minggu dapat menurunkan risiko penyakit jantung koroner sebesar 22 persen.
Pria juga mendapatkan manfaat dari tingkat aktivitas fisik tersebut, meskipun angkanya sedikit lebih rendah dengan penurunan risiko sekitar 17 persen. Perbedaan ini menguatkan temuan bahwa respons tubuh wanita terhadap latihan cukup signifikan.
Selain pencegahan penyakit jantung, penelitian juga membahas manfaat olahraga bagi mereka yang sudah memiliki kondisi jantung. Wanita yang berolahraga selama 51 menit per minggu memiliki risiko kematian lebih rendah dibandingkan yang tidak aktif.
Sementara itu, pria membutuhkan sekitar 85 menit olahraga untuk mendapatkan manfaat serupa dalam mengurangi risiko kematian. Artinya, pria membutuhkan waktu latihan sekitar 1,7 kali lebih lama untuk hasil setara.
Peran Biologi dalam Menentukan Respons Tubuh terhadap Latihan
Para peneliti menjelaskan bahwa keunggulan biologis wanita dalam merespons olahraga dipengaruhi oleh hormon serta struktur otot. Hormon estrogen disebutkan mampu mendukung pembakaran lemak dan memberikan perlindungan terhadap pembuluh darah.
Kondisi ini memberikan perempuan keuntungan tambahan dalam menjaga kebugaran jantung melalui aktivitas fisik. Estrogen juga berperan dalam mengoptimalkan proses metabolisme yang mendukung kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Wanita memiliki lebih banyak serat otot yang berorientasi pada daya tahan sehingga lebih efisien dalam melakukan aktivitas berdurasi panjang. Sementara itu, pria cenderung memiliki serat otot yang mendukung kekuatan dan kecepatan.
Hal ini membuat pria perlu melakukan latihan yang lebih lama untuk mencapai respons yang sama terhadap sistem kardiovaskular. Perbedaan komposisi serat otot tersebut menjadi salah satu penjelasan ilmiah yang signifikan dalam penelitian.
Namun, para ahli menegaskan bahwa perbedaan ini tidak berarti pria lebih sulit menjaga kesehatan jantung. Yang terpenting adalah menyesuaikan pola olahraga dengan karakter tubuh masing-masing.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa semakin banyak hari seseorang berolahraga dalam seminggu, semakin rendah risiko penyakit jantungnya. Pola tersebut berlaku untuk pria maupun wanita tanpa pengecualian.
Implikasi bagi Gaya Hidup Sehari-hari
Hasil studi ini menunjukkan bahwa olahraga tidak harus selalu berat untuk memberikan manfaat. Konsistensi dan penyesuaian dengan kemampuan tubuh justru menjadi hal paling penting.
Baik pria maupun wanita disarankan untuk mempertahankan rutinitas olahraga rutin setiap minggu. Aktivitas seperti jalan cepat, bersepeda, atau berenang dapat menjadi pilihan ideal untuk menjaga kesehatan jantung.
Temuan penelitian juga memberikan wawasan baru bagi para penyusun program latihan dan pelaku kesehatan. Mereka perlu mempertimbangkan perbedaan biologis saat memberikan rekomendasi kepada pria dan wanita.
Namun demikian, tujuan utama tetap sama, yaitu menjaga tubuh tetap aktif agar terhindar dari penyakit jantung. Pengaturan pola hidup sehat menjadi langkah penting di samping olahraga.
Dengan memahami kebutuhan tubuh masing-masing, masyarakat dapat lebih tepat menentukan jenis dan durasi olahraga yang mereka butuhkan. Kesadaran ini diharapkan mendorong lebih banyak orang untuk menjadikan aktivitas fisik sebagai bagian penting kehidupan sehari-hari.