Ekspor Kakao

Sabang Jadi Basis Ekspor Kakao, Mentan Amran: Serangan Balik ke Pasar Eropa

Sabang Jadi Basis Ekspor Kakao, Mentan Amran: Serangan Balik ke Pasar Eropa
Sabang Jadi Basis Ekspor Kakao, Mentan Amran: Serangan Balik ke Pasar Eropa

JAKARTA - Kota Sabang kini menonjol sebagai pusat pengolahan kakao yang mampu menembus pasar internasional. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut ekspor kakao dari Sabang sebagai bentuk “serangan balik” ke pasar luar negeri, termasuk Eropa.

Pernyataan itu disampaikan Amran setelah Wali Kota Sabang, Zulkifli H. Adam, menjelaskan bahwa kota tersebut memiliki dua pabrik pengolahan kakao. Produk yang dihasilkan pun sudah diekspor ke luar negeri, menandakan keberhasilan hilirisasi komoditas lokal.

Kunjungan Zulkifli bersama Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, ke kediaman Amran juga berkaitan dengan penanganan impor beras ilegal. Kedua wali kota menyampaikan kondisi terkini agar pemerintah pusat memahami potensi ekonomi yang bisa dioptimalkan.

Hilirisasi Kakao, Strategi Tingkatkan Nilai Ekonomi

Amran menekankan bahwa hilirisasi produk pertanian menjadi fokus pemerintah di berbagai daerah. Dalam pengolahan kakao, nilai ekonominya bisa meningkat hingga 37 kali lipat dibanding menjual bahan mentah.

“Khusus kakao, berapa pun permintaan Sabang, kami penuhi,” ujar Amran, menegaskan dukungan penuh Kementerian Pertanian. Program ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk mendorong pengembangan industri berbasis lokal.

Menurut Amran, keberadaan pabrik kakao di Sabang menandai kemajuan daerah dalam menerapkan hilirisasi. “Ternyata Sabang sudah maju. Kenapa? Sudah melakukan hilirisasi,” tambahnya. Hal ini menjadi contoh konkret bagi kota-kota lain dalam meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian.

Dua Pabrik Kakao, Kualitas Kelas A Plus

Zulkifli H. Adam mengungkapkan, Sabang memiliki dua pabrik pengolahan kakao yang mampu memenuhi permintaan pasar global. Produk kakao dari kota ini dikategorikan sebagai kelas A plus dan diminati banyak pihak di Eropa.

Selain kualitas, Sabang juga dikenal sebagai destinasi wisata yang menarik pelancong dari Malaysia dan Eropa. “Peminatnya banyak sekali. Sekarang kita kekurangan bahan baku,” tutur Zulkifli, menunjukkan tingginya permintaan terhadap produk lokal.

Keberadaan pabrik di Sabang menjadi bukti nyata penerapan hilirisasi yang efektif. Kota ini tidak hanya menjadi sentra produksi, tetapi juga membuka peluang investasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.

Investasi Hilirisasi Sektor Pertanian

Pada awal November 2025, Kementerian Pertanian dan Badan Koordinasi Penanaman Modal menyepakati investasi senilai Rp 371 triliun untuk hilirisasi sektor peternakan, hortikultura, dan perkebunan. Dana ini akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan nilai tambah komoditas unggulan.

Beberapa komoditas yang disasar dalam program ini antara lain kelapa, kakao, menteh, kelapa sawit, dan kelapa dalam. Dukungan investasi ini diharapkan memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen kakao dan komoditas lainnya di pasar global.

Investasi besar tersebut juga menjadi sinyal kuat bagi pelaku industri lokal untuk mengoptimalkan kapasitas produksi dan kualitas produk. Hal ini sejalan dengan strategi pemerintah memperluas hilirisasi komoditas pertanian demi kesejahteraan masyarakat dan penguatan ekonomi nasional.

Sabang, Simbol Potensi Ekonomi Lokal

Ekspor kakao dari Sabang bukan hanya tentang perdagangan, tetapi juga simbol kemampuan daerah mengelola potensi lokal. Dengan kualitas kelas A plus dan permintaan tinggi dari Eropa, Sabang menunjukkan bagaimana hilirisasi dapat meningkatkan nilai ekonomi secara signifikan.

Amran menegaskan bahwa setiap permintaan bibit kakao dari Pemkot Sabang akan dipenuhi Kementan. Langkah ini memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah untuk memastikan keberlanjutan produksi dan ekspor komoditas unggulan.

Keberhasilan Sabang dalam menembus pasar internasional juga memberikan contoh bagi kota lain di Indonesia. Dengan strategi hilirisasi yang tepat, nilai produk lokal bisa meningkat drastis, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Tantangan dan Peluang ke Depan

Meskipun permintaan tinggi, Sabang menghadapi tantangan keterbatasan bahan baku. Hal ini menjadi perhatian penting untuk memastikan kapasitas produksi tetap memenuhi permintaan global.

Di sisi lain, peluang ekspor semakin terbuka lebar dengan kualitas produk yang diakui internasional. Kombinasi antara kualitas, hilirisasi, dan dukungan pemerintah menjadikan Sabang sebagai model pengembangan ekonomi berbasis pertanian yang bisa direplikasi di daerah lain.

Ke depan, penguatan hilirisasi dan dukungan investasi diyakini mampu memperluas kapasitas produksi kakao dan komoditas lainnya. Dengan strategi yang tepat, Indonesia bisa semakin mengukuhkan posisinya di pasar global dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index