Tips Mengurangi Ketergantungan Gadget pada Anak Secara Konsisten

Tips Mengurangi Ketergantungan Gadget pada Anak Secara Konsisten
Ilustrasi anak main gadget.

JAKARTA - Penggunaan gadget pada anak makin sulit dipisahkan dari aktivitas kehidupan sehari-hari pada masa sekarang. Mulai dari urusan belajar, menonton video tayangan, hingga bermain gim, hampir semua kegiatan kini dapat diakses lewat layar ponsel atau tablet.

Akan tetapi, saat anak mulai sulit untuk lepas dari gawai, gampang mengamuk ketika perangkat diambil, atau lebih memilih menatap layar dibanding bermain bersama keluarga, orangtua wajib meningkatkan kewaspadaan.

Kondisi demikian dapat menjadi sebuah indikasi bahwa anak sudah mulai mengalami fase ketergantungan terhadap gadget. Psikolog dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta, Aisyah Almas Silmina, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menyebutkan orangtua tidak perlu panik.

Jika anak sudah telanjur terbiasa menggunakan gawai, aspek yang paling krusial untuk diaplikasikan adalah menerapkan langkah perubahan secara bertahap sekaligus konsisten.

Langkah awal yang dapat ditempuh ialah merumuskan aturan yang jelas perihal pemanfaatan gawai di lingkungan rumah. Menurut Aisyah, orangtua bisa mematok batas waktu harian, misalnya maksimal 1 hingga 2 jam saja dalam sehari.

Durasi tersebut idealnya merupakan hasil akumulasi total waktu dalam sehari, bukan diberikan sekaligus dalam satu sesi. Di samping itu, pihak orangtua juga wajib menerangkan momen kapan anak diperbolehkan dan dilarang menyentuh gawai.

Bukan cuma persoalan durasi, lokasi penggunaan gawai juga wajib dikontrol. Aisyah memberikan saran agar anak hanya memakai gawai di ruang keluarga atau area terbuka yang gampang dipantau langsung oleh orangtua.

Sebaliknya, hindari mengizinkan pengoperasian gawai di dalam kamar tidur ataupun ketika momen makan bersama. Melalui metode ini, anak tetap mempunyai peluang untuk bercengkerama dengan anggota keluarga tanpa terdistraksi layar.

Saat regulasi baru mulai dijalankan, anak berpotensi akan menangis, marah, atau mengalami tantrum akibat tidak bisa lagi memakai gawai sekehendak hati. Menurut Aisyah, respons emosional tersebut terhitung sebagai hal yang lumrah.

Kendati demikian, orangtua wajib teguh pendirian dan jangan langsung menyerahkan gawai hanya demi menghentikan tangisan anak. Jika setiap amukan selalu dituruti, anak akan mengira bahwa menangis merupakan taktik ampuh untuk meluluskan keinginannya.

Orangtua sebaiknya menunggu sampai emosi anak mulai mereda, kemudian mengajaknya berdialog mengenai apa yang ia rasakan sekaligus menegaskan kembali ketentuan yang telah disepakati bersama.

Memangkas durasi bermain gawai bukan berarti membiarkan anak terjebak dalam rasa jenuh tanpa ada kesibukan lain. Aisyah menganjurkan orangtua untuk memberikan opsi aktivitas alternatif yang tidak kalah seru.

Beberapa opsi kegiatan fisik di antaranya bermain di taman, berenang, bersepeda, menggambar, merakit kerajinan tangan, bermain alat musik, membaca buku cerita, atau menjajal aneka permainan tradisional.

"Kalau aktivitas lain juga menyenangkan, anak perlahan akan melupakan gadget karena menemukan kesenangan dari pengalaman yang baru," jelasnya.

Bukan sekadar memangkas ketergantungan pada layar visual, rangkaian aktivitas alternatif tersebut juga efektif membantu menstimulasi kecakapan motorik, kreativitas, hingga keterampilan sosial sang anak.

Menurut pemaparan Aisyah, salah satu pemicu utama anak betah berlama-lama menatap gawai adalah karena perangkat digital tersebut sanggup menyuguhkan sarana hiburan secara instan.

Oleh sebab itu, pihak orangtua harus mampu menyajikan sebuah pengalaman nyata yang tidak kalah seru lewat pola interaksi langsung secara tatap muka.

Sediakan waktu luang sekitar 20 hingga 30 menit setiap harinya untuk benar-benar fokus mendampingi anak bermain atau mengobrol tanpa diselingi dengan membuka ponsel pintar Anda.

Momen intens yang sederhana seperti membaca lembar buku bersama, bermain peran, atau sekadar bertukar cerita dinilai mampu mempererat ikatan emosional antara orangtua dan anak.

Aisyah mengingatkan bahwa seorang anak pada dasarnya meniru dan belajar dari kebiasaan yang dipraktikkan langsung oleh orangtua mereka di rumah.

Maka dari itu, akan menjadi hal yang mustahil untuk menginstruksikan anak mengurangi gawai apabila figur orangtua sendiri konstan sibuk memegang ponsel mereka sepanjang hari.

Awali langkah perubahan dengan menerapkan zona bebas gawai saat bersantap bersama, bertukar sapa dengan anggota keluarga, atau sewaktu mengawal anak bermain. Melalui teladan konkret, anak akan lebih mudah menangkap pesan bahwa gawai bukanlah satu-satunya wadah hiburan.

Apabila bermacam-macam strategi sudah dipraktikkan namun sang anak tetap memperlihatkan level ketergantungan yang masif, orangtua sebaiknya segera mencari pertolongan dari tenaga profesional.

Gejala berat tersebut berupa selalu mengamuk hebat saat gawai dirampas, sukar menjalankan rutinitas tanpa layar, atau ada pergeseran perilaku yang mengacaukan ritme harian.

Aisyah menambahkan, psikolog dapat membantu memetakan akar penyebab dari tendensi perilaku anak tersebut sekaligus mengulurkan pendampingan yang tepat agar proses pemulihan berjalan makin optimal.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index