Kenali 7 Ciri Anak dengan EQ Rendah Sebelum Terlambat Pada Tahun 2026

Kenali 7 Ciri Anak dengan EQ Rendah Sebelum Terlambat Pada Tahun 2026
Ilustrasi Anak dengan EQ Rendah.

JAKARTA - Anak dengan tingkat kecerdasan emosional atau EQ yang rendah biasanya mengalami kesulitan dalam memahami emosi diri sendiri, sulit berempati, hingga sukar beradaptasi.

Orang tua sering kali menganggapnya sebagai perilaku yang maklum karena usia anak masih amat belia, padahal indikasi ini merupakan ciri anak dengan EQ rendah yang patut diwaspadai.

Mengutip laporan WebMD, kecerdasan emosional merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami, sekaligus mengelola emosi diri sendiri maupun orang di sekitarnya. Anak yang dibekali EQ tinggi cenderung memiliki Kesejahteraan psikologis yang jauh lebih baik.

Apabila tanda-tanda EQ rendah tidak terdeteksi sejak dini, kondisi tersebut dapat berdampak negatif pada hubungan sosial, pencapaian akademik, hingga kesehatan mental anak di masa mendatang.

Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk mengenali gejalanya agar dapat segera mengevaluasi perilaku anak sekaligus menyelaraskan kembali pola asuh yang diterapkan.

Merangkum dari berbagai sumber, berikut adalah tujuh ciri anak dengan EQ rendah yang perlu diwaspadai.

Pertama, sulit berempati pada orang lain. Menurut Simply Psychology, anak yang memiliki EQ rendah kurang peka terhadap perasaan orang lain, sulit memahami kesedihan temannya, atau tampak acuh saat orang di sekitarnya kecewa.

Sikap ini membuat mereka kerap dinilai cuek bahkan tanpa sadar menyakiti perasaan orang lain. Jika dibiarkan tanpa penanganan, anak akan kesulitan membangun hubungan interpersonal yang sehat.

Kedua, enggan berbagi makanan atau mainan. Mengutip Laodong, anak yang enggan membagi makanan atau mainannya menunjukkan bahwa perkembangan EQ-nya belum optimal.

Jika perilaku egois ini dibiarkan terus-menerus tanpa bimbingan, anak dapat tumbuh dengan pola pikir individualistis dan sulit bekerja sama, padahal kemampuan berbagi merupakan fondasi penting dalam interaksi sosial.

Ketiga, mudah kehilangan kontrol emosi. Anak dengan EQ rendah sering meluapkan amarah, berteriak, melempar barang, atau menangis secara berlebihan saat keinginannya tidak dituruti.

Hal ini menandakan kemampuan regulasi emosi anak belum terbentuk dengan baik. Orang tua disarankan tetap tenang dan membantu anak mengenali perasaan yang sedang dialaminya.

Keempat, sering menyalahkan orang lain. Saat berhadapan dengan masalah, anak yang minim refleksi diri cenderung melemparkan kesalahan kepada pihak luar dan sulit menyadari peran dirinya dalam suatu konflik.

Orang tua dapat melatih kemampuan introspeksi anak melalui pertanyaan reflektif yang tidak menyudutkan agar anak tidak bersikap defensif.

Kelima, tidak mampu menamai perasaannya. Anak dengan EQ rendah kerap kebingungan dan hanya menjawab tidak tahu saat ditanya mengenai perasaannya karena keterbatasan kosakata emosi.

Orang tua dapat membimbing anak dengan mengenalkan ragam kosakata emosi satu per satu melalui pendekatan bermain yang menyenangkan.

Keenam, kesulitan menjalin dan mempertahankan pertemanan. Anak dengan EQ rendah umumnya kurang mahir mendengarkan, membaca situasi sosial, atau menyelesaikan perselisihan, sehingga cenderung terlalu dominan atau justru menarik diri.

Pelatihan interaksi ini dapat disimulasikan di rumah melalui metode permainan peran atau diskusi ringan terkait situasi sosial di sekolah.

Ketujuh, sulit meminta maaf secara tulus. Anak yang enggan meminta maaf biasanya belum memahami konsep tanggung jawab atas tindakan yang diperbuat dan hanya mengucapkannya secara terpaksa.

Untuk mengatasi hal ini, orang tua perlu memberikan teladan nyata dengan menyampaikan permohonan maaf yang tulus saat melakukan kesalahan di depan anak.

Memahami ciri-ciri tersebut sejak awal sangat krusial agar orang tua dapat mendampingi tumbuh kembang emosional anak. Perlu diingat bahwa tanda-tanda ini bukanlah sifat permanen, melainkan keterampilan emosional yang masih bisa diasah secara konsisten.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index