VISIENERGI.COM — Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin ke kisaran 3,75-4 persen, keputusan pertama sejak Juli 2023. Dolar AS langsung menguat terhadap rupiah ke level Rp 17.753 dan menekan sejumlah mata uang Asia. Bitcoin justru ikut terangkat ke kisaran US$ 76.400.
Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dalam pertemuan Rabu (16/9). Keputusan diambil dengan suara bulat 12-0, membawa bunga The Fed ke kisaran 3,75-4 persen.
Ini kenaikan pertama sejak Juli 2023. The Fed juga memberi sinyal masih membuka peluang menaikkan bunga lagi hingga akhir tahun demi meredam inflasi.
Dolar Perkasa, Rupiah di Bawah Tekanan
Dampak kebijakan itu langsung terasa di pasar valuta Asia. Mengutip Bloomberg pada Kamis (17/9/2026) pukul 13.18 WIB, dolar AS menguat 0,32 persen terhadap rupiah ke level Rp 17.753.
Tekanan serupa dialami Ringgit Malaysia yang melemah 0,50 persen ke MYR 4,0967 per dolar AS. Won Korea turun 0,49 persen ke KRW 1.383,1, sementara dolar Taiwan melemah 0,27 persen ke TWD 31,86.
Peso Filipina dan Dong Vietnam juga tertekan, masing-masing 0,02 persen ke PHP 62,7450 dan 0,04 persen ke VND 25.596. Tidak semua mata uang Asia melemah: Yuan China justru menguat 0,02 persen ke CNY 6,7074, dolar Singapura naik 0,18 persen ke SGD 1,275, dan Yen Jepang menguat 0,44 persen ke JPY 155,58.
Bitcoin Ikut Terangkat ke US$ 76.400
Di pasar aset kripto, kebijakan The Fed turut menopang harga Bitcoin. Berdasarkan pantauan CoinMarketCap sekitar pukul 12.06 WIB, BTC diperdagangkan di kisaran US$ 76.442, naik 1,05 persen dalam 24 jam terakhir.
Kapitalisasi pasar Bitcoin tercatat sekitar US$ 1,53 triliun, naik 0,8 persen. Volume perdagangan dalam 24 jam terakhir mencapai US$ 30,34 miliar, turun 21,79 persen.
Jumlah Bitcoin yang beredar saat ini sekitar 20,08 juta BTC dari batas maksimum 21 juta BTC.
Sinyal Inflasi dan Arah Kebijakan Berikutnya
FOMC menyatakan kenaikan bunga ditempuh untuk mempercepat kembalinya inflasi ke target 2 persen. "Kebijakan hari ini akan mendukung kembalinya inflasi ke target Komite sebesar 2% secara lebih cepat. Komite akan mewujudkan stabilitas harga," kata FOMC dikutip dari CNBC.
Pernyataan itu menegaskan prioritas bank sentral AS pada stabilitas harga ketimbang mendorong pertumbuhan jangka pendek. Pasar kini menanti apakah The Fed benar-benar menambah kenaikan sebelum akhir tahun.
Bagi Indonesia, penguatan dolar AS berpotensi menambah tekanan pada rupiah dan memperlebar defisit neraca perdagangan jika ekspor tidak ikut menguat. Investor asing juga cenderung menahan dana di aset berdenominasi dolar selama bunga AS masih naik.